The Developmentalist Tradition [Terjemahan]

Posted

by

CH. 4 Economics, Ha-Joon Chang (2014)

Tradisi Developmentalis

Kesimpulan satu kalimat: Backward economies can’t develop if they leave things entirely to the market. Ekonomi yang mundur/terbelakang tidak dapat berkembang jika (karena) mereka meninggalkan segalanya sepenuhnya kepada pasar.

Tradisi yang ditinggalkan

Tanpa disadari oleh kebanyakan orang dan jarang disebutkan bahkan dalam buku-buku tentang sejarah pemikiran ekonomi, ada tradisi dalam ekonomi yang bahkan lebih tua dari sekolah Klasik. Tradisi ini adalah apa yang saya sebut sebagai tradisi Developmentalis (atau Pembangunan), yang dimulai pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17: dua abad atau lebih sebelum sekolah Klasik.

Saya tidak menyebut tradisi Developmentalis sebagai sekolah (mahzab, dsb.), karena sekolah mengimplikasikan terdapat para pendiri dan pengikut yang dapat diidentifikasi, dengan teori inti yang jelas. Sementara tradisi Developmentalis sangat lah tersebar, dengan banyak sumber inspirasi dan dengan garis keturunan intelektual yang agaknya sulit dijabarkan.

Hal ini dikarenakan para pembuat kebijakan, yang tertarik dalam menyelesaikan permasalahan dunia––alih-alih para pemikir/ilmuwan––yang memulai tradisinya. Mereka menarik beberapa unsur dari beberapa sumber dengan cara pragmatis dan eklektik, meskipun beberapa dari mereka juga telah berkontribusi secara pribadi (sebelum berurusan dengan tradisi ini).

Namun, tradisi ini tidak kalah pentingnya. Tradisi ini mungkin menjadi tradisi intelektual paling penting dalam ekonomi dalam hal dampaknya pada dunia nyata. Bukan rasionalisme sempit ekonomi Neoklasik atau visi Marxisme tentang masyarakat tanpa kelas, yang telah menjadi landasan hampir semua pengalaman pembangunan ekonomi yang sukses dalam sejarah manusia, mulai dari Britania abad kedelapan belas, Amerika dan Jerman abad kesembilan belas, hingga Tiongkok saat ini.

Meningkatkan kemampuan produktif untuk mengatasi ekonomi yang terbelakang

Tradisi Developmentalis memfokuskan diri membantu negara dengan keterbelakangan ekonomi dalam mengembangkan ekonomi mereka dan keep up dengan yang lebih maju. Bagi para ekonom dalam tradisi ini, pembangunan ekonomi tidak sekadar menambah pemasukan, yang mana bisa terjadi tergantung sumber daya melimpah seperti minyak atau berlian. Tapi, perkara memperoleh kapabilitas produktif (productive capabilities) yang lebih canggih, yaitu kemampuan untuk memproduksi dengan menggunakan (dan mengembangkan teknologi dan organisasi baru).

Tradisi Developmentalis berargumen bahwa beberapa aktivitas ekonomi, seperti industri manufaktur dengan teknologi tinggi, lebih baik dalam mengaktivasi suatu negara dalam mengembangkan kapabilitas produktifnya. Bagaimanapun, aktivitas tersebut tidak secara alamiah muncul di negara dengan keterbelakangan ekonomi (backward economy), sebagaimana di negara dengan ekonomi maju. Di negara dengan ekonomi maju, kecuali negaranya mengintervensi dengan tarif, subsidi, dan regulasi, pasar bebas akan menarik kembali ke aktivitas dengan produktivitas rendah, berdasarkan sumber yang ada atau pekerja yang murah. Tradisi Developmentalis menekankan bahwa aktivitas yang diinginkan dan kebijakan yang sesuai bergantung pada waktu dan konteks. Contoh analogi: Industri hari kemarin seperti tekstil abad ke-18 yang dianggap hi-tech, hari ini mungkin masuk ke dalam kategori industri buntu; sehingga kebijakan yang dianggap bagus untuk negara dengan ekonomi maju (free trade) mungkin buruk bagi negara yang belum berkembang.

Benang awal dalam tradisi Pembangunan: Merkantilisme, argumen industri, dan pemikiran Jerman.

Meski praktik kebijakan dimulai lebih awal (contohnya, di bawah Henry VII, yang berkuasa antara 1485-1509), tulisan-tulisan teoritis tentang tradisi Developmentalis dimulai di akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, dengan ekonom Renaisan Itali seperti Giovanni Botero dan Antonio Serra, yang menekankan pentingnya promosi aktivitas manufaktur oleh pemerintah.

Ekonom Developmentalis abad ke-17 dan ke-18––yang kita kenal sebagai Merkantilis––saat ini umumnya digambarkan sebagai mereka yang semata-mata berfokus pada menghasilkan surplus perdagangan, yaitu perbedaan antara ekspor dan impor ketika yang pertama lebih besar. Tapi banyak dari mereka sebenarnya lebih tertarik dengan mempromosikan aktivitas ekonomi dengan produktivitas tinggi melalui intervensi kebijakan. Setidaknya di antara mereka menghargai surplus perdagangan sebagai gejala kesuksesan ekonomi (yaitu, perkembangan kegiatan berproduktivitas tinggi), bukan sebagai tujuan itu sendiri.

Sejak akhir abad ke-18, dengan meninggalkan kekhasan Merkantilis dan kepentingannya terhadap surplus perdagangan, tradisi Developmentalis menjadi lebih jelas berfokus pada produksi. Pembangunan paling penting datang dari penemuan infant industry argument, yang kami temukan di bab akhir. Teori Alexander Hamilton ini kemudian dikembangkan oleh ekonom Jerman yaitu Friedrich List, yang hari ini seringkali dianggap sebagai Bapak infant industry argument. Bersamaan dengan List, pada pertengahan abad ke-19, sekolah Jerman muncul dan mendominasi ekonomi Jerman hingga pertengahan abad ke-20. Ini juga sangat mempengaruhi ekonomi Amerika. Sekolah ini menyoroti pentingnya memahami sejarah bagaimana sistem produksi material telah berubah, dan bagaimana hal ini mempengaruhi dan dipengaruhi oleh hukum dan institusi sosial lainnya.

Catatan: Infant industry argument (argumen industri tahap awal): Konsep dalam ekonomi pembangunan yang menyatakan bahwa dalam tahap awal pembangunan ekonomi, industri dalam suatu negara mungkin memerlukan perlindungan dari persaingan luar negeri agar bisa tumbuh dan berkembang. Konsep ini menyatakan bahwa industri-industri baru yang baru berkembang di negara-negara berkembang seringkali tidak mampu bersaing dengan industri yang sudah mapan di negara-negara maju karena perbedaan dalam skala produksi, teknologi, dan biaya. Oleh karena itu, pemerintah dapat memberikan perlindungan dalam bentuk tarif impor atau subsidi untuk membantu industri-industri tersebut tumbuh hingga mencapai tingkat kematangan yang memungkinkannya bersaing secara internasional. Argumen ini menekankan pentingnya perlindungan domestik untuk memberikan kesempatan kepada industri-industri dalam negeri untuk tumbuh dan menjadi kompetitif di pasar global.

Tradisi Developmentalis di dunia modern: Ekonomi Pembangunan

Tradisi Developmentalis begitu maju dalam bentuk modernnya di era 1950an dan 1960an oleh beberapa ekonom seperti, Albert Hirschman (1915-2012), Simon Kuznets (1901– 85), Arthur Lewis (1915–91) dan Gunnar Myrdal (1899–87). Mereka kebanyakan menulis tentang negara-negara di Asia/Afrika/Latin Amerika yang berada di pinggiran/ambang batas kapitalisme: di mana mereka dan para pengikut mereka tidak hanya menyempurnakan teori Pembangunan sebelumnya tetapi juga menambahkan banyak inovasi teoritis baru.

Inovasi paling penting mungkin datang dari Hirschman, yang menunjukkan bahwa beberapa industri secara ketat saling memiliki hubungan (linkages/connection); dengan kata lain, mereka membeli dari – dan menjual ke – sejumlah industri yang sangat besar. Jika pemerintah mengidentifikasi dan dengan sengaja mempromosikan industri-industri ini (industri otomotif dan baja adalah contoh umum), ekonomi akan tumbuh dengan lebih berkembang daripada jika dibiarkan pada pasar.

Baru-baru ini, beberapa ekonom menekankan perlunya melengkapi keamanan industri tahap awal dengan investasi dalam membangun kapabilitas ekonomi produktif. Keamanan perdagangan hanya menciptakan ruang dalam suatu negara yang dapat meningkatkan produktivitas. Dan peningkatan aktual ini memerlukan investasi yang dipertimbangkan dengan matang (deliberate investments) dalam pendidikan, pelatihan, dan R&D.

Lebih dari sekadar yang terlihat: menilai tradisi Pembangunan

Seperti yang telah saya tunjukkan di awal, kurangnya koherensi, dan teori yang komprehensif, menjadikan tradisi Developmentalis itu lemah. Anggap lah kecenderungan manusia dipengaruhi oleh teori yang seharusnya dapat menjelaskan semuanya, maka hal ini telah memosisikan tradisi ini pada wilayah yang rendah dari Neo-Klasik dan Marxis.

Tradisi ini lebih rentan terhadap argumen kegagalan pemerintah daripada sekolah ekonomi lain yang menganjurkan peran aktif pemerintah. Ini merekomendasikan seperangkat kebijakan yang sangat luas, yang lebih mungkin untuk menguji kemampuan administratif pemerintah.

Meskipun memiliki kelemahan ini, tradisi Developmentalis ini layak mendapat lebih banyak perhatian. Kelemahan krusialnya, yaitu eklektisismenya, sebenarnya dapat menjadi kekuatan. Mengingat kompleksitas dunia, sebuah teori yang lebih eklektik mungkin lebih baik dalam menjelaskannya. Keberhasilan kombinasi unik kebijakan pasar bebas dan kebijakan sosialis Singapura, yang kita temui di Bab 3, adalah contoh yang menunjukkan hal tersebut. Selain itu, rekam jejak impresifnya dalam menghasilkan perubahan dunia nyata menunjukkan bahwa ada lebih dari yang terlihat.


Feature image: https://www.ias.edu/ideas/albert-o-hirschmans-early-institute-years


error: Sorry, content is protected!