Sumber: https://www.indiatimes.com/news/india/chipko-andolan-was-the-strongest-movement-to-conserve-forests-india-needs-it-again-342183.html

Catatan ECCR: Ekofeminisme

Posted

by

Mendengar, mencatat, mencoba mengerti. Kali ini dibantu oleh pembahasan Ekofeminisme oleh Mbak Yayas dalam webinar ECCR (Extension Course of Culture and Religion) FF UNPAR.

Bahwa keadaan Bumi kita tidak baik-baik saja. Bagaimana kita mencoba melakukan, reorientasi? Bagaimana diri kita sebagai manusia baik dari individu atau komunitas menghadapi kegentingan itu? Bagaimana psikologi kita membayangkan tempat kita rusak? Apapun yang terjadi pada lingkungan hidup kalau dalam pengertian Heidegger umwelt, pengertian paling puitis, apa yang terjadi pada alam itu akan mempengaruhi tidak hanya yang biologis tapi kesadaran dan spiritualitas kita. 

Yang mulainya sudah dari akhir 1960 dan awal 1970, dipopulerkan oleh peragam pemikir dunia baik dari Amerika, Eropa, India yang memang fokusnya pada problem pembangunan kala itu. Tapi kemudian muncul kembali isu ekofeminisme karena adanya krisis iklim, sebut ekofeminis asal Australia, Ariel Salleh. Atau Greta Gaard menyebut ekofeminisme dibutuhkan amat sangat karena ada rasa cemas terhadap kepunahan. Sehingga ini jadi alternatif yang bisa kita telusuri beberapa pandangan ekologi, yang semenjak 70an itu berkembang menjadi sistematika: dari etika lingkungan, argumentasi yang ontologis-epistemologi, areanya masuk ke filsafat lingkungan hidup.

Feminisme

Ekofeminisme menjadi salah satu gerakan dari feminisme. Feminisme adalah suatu gerakan pemikiran dan sosial yang mengkritik dominasi budaya dan politik yang (melanggengkan) diskriminatif terhadap perempuan. Feminisme mengalami transformasi dari masa ke masa, melalui kemunculannya, dari sastra, hingga ke gerakan politik. Feminisme tidak semuanya menggunakan literatur yang sifatnya seperti formalistik filosofi, tapi feminis menggunakan medium sastra, baik itu gerakan lingkungan/ekologi. Bisa bermula dari aksi solidaritas sesama perempuan, atau aksi solidaritas terhadap lingkungan hidup. Yang nantinya dikembangkan menjadi pemikiran runut yang sistematis, yang kita ketahui sebagai teori kritis feminisme.

Tujuan dari Feminisme (sebagai sesuatu gerakan)

Upaya kerjasama dalam membongkar tata sosial, budaya (bahasa, sistem kepercayaan/sistem religi), politik (sistem representasi) yang diskriminatif sehingga dapat (mendorong) membentuk masyarakat baru yang lebih humanis, adil dan setara.

Tiga gelombang besar dalam feminisme

Gelombang pertamaFeminisme liberal, radikal, MarxisAdvokasi praktis; hak pendidikan, partisipasi ekonomi, hak voting, dsb
Gelombang keduaFeminisme eksistensialis, psikoanalisisPengembangan teori
Gelombang ketigaFeminisme posmodern, multikultur, poskolonial, ekofeminismePerombakan pendekatan pada Ilmu Pengetahuan dan Bahasa

Jika diperhatikan, terjadi perkembangan dalam gerakan feminisme dari gelombang 1 sampai gelombang 3. Di gelombang ke-3, sejak 1970an berkembang cara pandang baru, khususnya kritik terhadap gelombang feminisme yang lain, yang dilontarkan oleh feminisme multikultur dsb, mengkritik worldview yang Eurosentris yang mengabaikan pandangan feminis di Global South misalnya. Bagaimana cara kerja kuasa dalam memahami bahwa kuasa/diskriminasi itu bekerja menyebabkan segregasi warna kulit/rasialisme, penjajahan terjadi dari negara maju terhadap negaraberkembang, sehingga muncul narasi soal kelas termasuk ekofeminisme. Ekofeminisme mengupayakan perombakan terhadap bagaimana ilmu pengetahuan selama ini memahami bagaimana posisi perempuan ketika ia memahami kuasa yang bekerja tidak saja, bagaimana subjugasi terjadi pada perempuan, tapi terjadi pula subjugasi terhadap alam. Sehingga ada solidaritas melampaui spesies, yang tidak bertumpu pada fokus manusia saja, tapi melampaui itu. Poskolonial, postrukturalis, ekofeminis memandang adanya ketimpangan yang bisa dilihat secara interseksional bahwa perempuan itu, apalagi jika perempuan datang dari wilayah yang selama ini mengalami ketertinggalan (ekonomi, keterpinggiran), fakta dirinya sebagai perempuan, maupun bagaimana perempuan ada di wilayah termiskin, terjadi kapitalisme-eksploitasi terhadap alam juga. Sehingga eksploitasi terhadap perempuan dan lingkungan hidup terjadi secara simultan di budaya yang menganut sistem patriarti: yang memiliki komponen analisis kritis terkait dengan ekonomi kapitalistik. 

Feminisme sebagai paradigma tandingan

Gerakan feminisme muncul sebagai upaya untuk membongkar wacana-wacana misoginis. Misogini artinya membenci perempuan, menandakan sikap yang berprasangka buruk terhadap perempuan, hingga sikap diskriminatif terhadap perempuan. Budaya misoginis terhadap perempuan muncul di berbagai aspek kebudayaan, dari norma, adat, tradisi, hingga berbagai literatur sastra maupun filsafat. 

Di dalam feminisme itu sendiri dia tidak monolitik, begitu banyak aliran, dan perdebatan di dalamnya. Maupun di dalam aliran tersebut. Bagaimana feminisme sebagai gerakan sosial atau gerakan masyarakat untuk melakukan perlindungan untuk pelestarian hidup, dan di satu sisi memiliki ciri penekanan berbeda berdasarkan tokoh-tokoh ekofeminis yang mengenalkan teori ekofeminis.

“Ekofeminisme atau Ekologi Feminisme adalah gerakan feminis yang berupaya menyatukan tuntutan daripada gerakan perempuan dengan gerakan lingkungan hidup demi menghadirkan dunia dan perspektif yang tidak didasari sosio-ekonomi dan struktur konseptual yang dibentuk dari dominasi.” –Karen J. Warren

Dalam pemikiran Warren, mencoba menggambarkan ekofeminisme itu adalah penggabungan ekologi dan feminisme yang membahas penuh di dalam percakapan bagaimana memahami proses di alam, bukan hanya ekologi deskriptif tapi ekologi kritis yang melihat posisi manusia dalam memahami ekologinya. Membongkar susunan politik dan sosial yang memiliki sistem dominasi.

Ekofeminisme sebagai perspektif

Ekofeminisme dimulai dari tokoh Prancis, Françoise d’Eaubonne, di mana pada 1972 mempublikasikan manifesto di Prancis. Pada waktu itu pergolakan politik global. Dia menekankan feminisme atau mati. [Read more https://www.greeneuropeanjournal.eu/francoise-deaubonne-and-the-imperfect-foundation-of-ecofeminist-thought/  L’Utopie ou la mort, Feminism or Death. https://www.versobooks.com/books/3957-feminism-or-death]

Sisi kritis yang diupayakan dia, kuat dengan nuansa Marxismenya, ada juga bentuk campuran antara pandangan materialisme ekofeminis dan aspek yang juga lebih holistik ke pandangan tradisional seperti yang diupayakan Vandana Shiva dari India.

Greta Gaard, Ariel Salleh, Carolyne Merchant, Mary Daly, adalah tokoh-tokoh ekofeminisme yang bisa dikategorisasi sebagai pemikir, sastrawan, yang pada tahun 70-90 mendorong suatu eksplorasi baru pada penggabungan ekologi dan feminisme. Meski demikian, kita perlu mengenali ekofeminisme di Indonesia juga ya.

Di Barat mungkin cukup mudah, meletakkan penanda di mana terjadi problem atau terpatahnya hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya terjadi ketika khususnya pada masa revolusi ilmu pengetahuan.

Di Indonesia, di antara suku atau etnis yang ada, kita tahu bahwa di Indonesia dengan keberadaan masyarakat adat, untuk waktu yang sudah lama sudah hidup dengan konsep keselarasan dengan alam. Termasuk ketika bicara tentang perempuan. Bagaimana peran perempuan adat ketika terjadi degradasi alam? Masyarakat adat, khususnya perempuan, melalui gerakan PKK, komunitas seperti Srikandi membela Teluk Benoa, menolak pembalakan liar, ibu-ibunya melakukan penelanjangan diri dengan menghalau alat-alat berat. Ini adalah contoh bagaimana kemudian cara pandang dari kelompok adat, kearifan dan kebijaksanaan lokal yang ada digunakan untuk mengkonfrontir suatu ancaman lingkungan hidup. Pengetahuannya sudah tertanam begitu lama. Secara sistematik, ekofeminisme, dapat diperkaya dengan khazanah pemikiran tokoh-tokoh yang tadi disebutkan.

Kita bisa melihat suatu kontestasi kekuatan yang terjadi baik itu di ASIA, India, lalu juga di Amerika Latin (Honduras), yang memang perempuannya melakukan perempuan atau bagian dari perlawanan menjaga wilayah terakhir lingkungan hidup (alam liar atau rimba terkahir)

“Ekofeminisme menyatakan bahwa pohon, satwa, tanah dan air memiliki sistem berpikir dan berkomunikasi” Pengantar Memori Tubuh, Dewi Candraningrum. 

Komunikasi bukanlah satu-satunya milik manusia. Pohon dsb berkomunikasi satu sama lainnya. Tidak karena manusia memiliki bahasa dan mengembangkannya menjadikan mereka unggul. Alam juga memiliki bahasa masing-masing. Ekofeminisme melihat alam tidak sebagai benda mati. Alam memiliki roh yang memiliki telos atau tujuan akhir, yaitu keseimbangan (ekuilibrium-Saras Dewi)

Gerakan Chipko (Chipko = menempel)

Gerakan Chipko 1970an, adalah suatu gerakan yang dilakukan oleh para perempuan di India untuk mempertahankan lingkungan hidupnya. Gerakan modern Chipko berawal pada tahun 1970 di Garhwal Himalaya di Uttar Pradesh India. Gerakan tersebut merupakan reaksi terhadap memburuknya kondisi hutan di kawasan Himalaya. Puncak dari gerakan itu terjadi pada tanggal 26 Maret 1974, di desa Reni, Uttar, Pradesh ketika sekelompok perempuan petani saling berpegangan tangan untuk melawan upaya kontraktor menebang pepohonan. Chipko dari bahasa India yang berarti menempel, atau melekat (to stick).

Hutan Himalaya tidak dianggap sebagai wilayah penting pencegahan bencana longsor banjir, tapi juga erat dengan kehidupan masyarakatnya di sana. Bagi perempuan yang terlibat pada gerakan Chipko, alam dianggap sakral (sakral tidak saja dianggap alam sebagai perwujudan daya kreatif yang membuat kehidupan, tapi ada aspek kecerdasan lokal di mana alam itu menopang ekosistem yang sehat). 

Vandana Shiva on Chipko

I became a volunteer as a young student in the Chipko movement of the 1970s which I think shaped our contemporary history very strongly. But Chipko wasn’t the first. Centires ago, there had been another such movement in Rajasthan where Amrita Devi refused to let her Khejarli trees to be cut by the king’s army because they are sacred and are key to avoiding famine in the desert.” 

Kartini Kendeng

Pada tahun 2014-2015 terjadi konflik lingkungan hidup yang melibatkan masyarakat lokal Rembang dan pabrik semen. Kartini Kendeng: gerakan ibu-ibu di Rembang untuk mempertahankan wilayah Gunung Kendeng dari pembangunan Pabrik Semen Indoneia. Lesung dari pembangunan Pabrik Semen Indonesia. AMDAL menunjukkan bahwa Rembang jadi tampungan air yang penting. Gua-gua dan pegunungan Kendeng tidak hanya menjadi wilayah hidup petani dari mata air di situ. Banyak kelelawar di gua dan artefak prasejarah di sana. Sehingga ini adalah situs penting dan tentunya bukan hanya situs budaya tapi juga wilayah hidup yang nyata bagi masyarakat yang hidup di sana. Menjelang sore hari, biasanya mesin dihidupkan oleh pabrik tambang, ibu-ibu pun menggunakan lesung untuk nyanyikan kidungnya. [Read more https://www.jurnalperempuan.org/tokoh-feminis/gunretno-ibu-bumi-wis-maringi-ibu-bumi-dilarani-ibu-bumi-kang-ngadili]

Lesung sebagai simbol perlawanan terhadap mesin bulldozer. Sekelompok petani yang buta huruf tetapi merasakan pentingnya keseimbangan relasi manusia dengan alam. Lihat juga Wadon Wadas. Wangari Maathai, Green belt Kenya. Mama Aleta Baun, Molo NTT

Benih

Navdanya berarti sembilan benih yang menjadi simbol perlindungan terhadap keragaman biologis dan kultural. Benih adalah anugerah kehidupan. Vandana Shiva menolak GMO (Genetically modified organism) dan mendorong benih organik (cara hidup organik). GMO is not an investment if it is destroying the planet.

Arkeologi

When you are doing the right thing for the earth, she gives you great company

Relasi manusia dan alam, alam sebagai kreator, manusia sebagai ko-kreator. Ia menegaskan pentingnya agroekologi sebagai basis masa depan manusia yang sejahtera. Petani yang mengkultivasikan tanah dengan cara yang benar, sesungguhnya mereka membangun kehidupan berdampingan bersama alam.

Kapitalisme & Pembangunan

Pembangunan memiliki arti berakhirnya ikatan ekologis dan budaya dengan alam; dan di dalam masyarakat, pembangunan berarti perubahan dari komunitas organik ke dalam kelompok tergusur dan individu teralienasi yang mencari identitas yang hilang.

Kapitalisme untuk Shiva kembali pada penghancuran kultural dan alam. 

Ekofeminisme sebagai teori

Mematahkan adanya logika dominasi relasi biner yang memisahkan kultur dan nature yang menjadi substansi dari persoalan sosial yang terkait dengan diskriminasi gender dan krisis ekologi, tidak hanya relasi manusia dengan manusia, tetapi relasi dengan alam.

Etika kepedulian sebagai prinsip etis dalam ekofeminisme.

Agenda utama ekofeminisme

Ekofeminisme ingin mendobrak cara pandang serta kerangka konseptual yang opresif, menindas, yaitu kerangka konseptual yang berlaku umum dalam era modern dengan didukung oleh politik dan ekonomi liberalisme dan ilmu pengetahuan modern yang Cartesian, dualistik, mekanistik, dan reduksionistik. Alam sebagai yang mekanistis, pasif, terpecah-pecah, terpisah dari manusia.

Vandana Shiva menyebutkan cara pandang modernisasi terhadap alam mengakibatkan kekeliruan dalam membangun, maldevelopment

Agenda kedua adalah bagaimana ekofeminisme merupakan suatu gerakan riil, yang mendobrak setiap institusi dan sistem sosial, politik, ekonomi  yang sifatnya opresif khususnya terhadap perempuan dan alam.

Androsentrisme menurut Karen J. Warren

Nilai selalu dipandang secara hirarkis, yang menempatkan nilai dan status yang lebih tinggi pada pihak yang dianggap lebih tinggi. Dualisme nilai, lelaki dilawankan dengan perempuan. Yang memberikan nilai lebih tinggi dari lainnya. Logika dominasi, cara-cara yang mengukuhkan dan membenarkan dominasi dan subordinasi.

Etika kepedulian

Etika kasih sayang berangkat dari asumsi mengenai kehidupan di mana kerjasama menggantikan konflik, relasi menggantikan konfrontasi, kepedulian dan kasih sayang kepada yang lain menggantikan hak dan kewajiban, saling memberikan kepercayaan, saling melengkapi dan mendukung menggantikan konsep dominasi.

Menyoal perubahan iklim

Perubahan iklim melalui penelusuran filosofi dapat dipahami sebagai suatu fakta (dalam konteks epistemologinya). Namun, perubahan iklim adalah krisis yang tidak saja menyergap sisi fisikal manusia namun juga eksistensialnya (dalam konteks ontologisnya). Perubahan iklim adalah persoalan etis manusia, tanggung jawab manusia terhadap tindakan dan aktivitasnya (dalam konteks aksiologisnya).

Membaca laporan IPCC 

  • IPCC sebagai bukti ilmiah perubahan iklim, yang mendorong kesepakatan global demi mencegah katastrofe maka suhu perlu dijaga tidak meningkat melampaui 1,5’ c
  • IPCC sebagai riset-riset multidisiplin yang menunjukkan tubuh bumi yang sakit (kesakitan)
  • Daya swa-regulasi bumi yang terganggu akibat dampak-dampak dari aktivitas manusia

Categories

error: Sorry, content is protected!