Otak dan Intelegensi Manusia Ditinjau dari Kasus Ben McMahon

Posted

by

Pada tahun 2012, Ben McMahon, orang Australia berumur 22 tahun, mengalami koma selama seminggu setelah kecelakaan mobil yang menimpanya. Keluarganya tidak yakin ia akan pulih total. Ketika McMahon terbangun, ia bertemu dengan seorang perawat berkebangsaan Tiongkok. McMahon diketahui tiba-tiba fasih berbicara Mandarin dengannya. Padahal, ia tidak pernah menguasai bahasa itu sebelum koma. McMahon memang pernah belajar Mandarin ketika SMA, namun tidak bisa berbicara bahasa tersebut dengan sangat lancar.1 Menurut Dokter yang menanganinya, sirkuit otak yang bertugas mengaktivasi kemampuan bahasa pertamanya, bahasa Inggris, rusak karena kecelakaan, dan karenanya, sirkuit sekunder McMahon yang mengenali bahasa Mandarin muncul sebagai pengganti bahasa yang dapat ia gunakan untuk bicara.2 

Kasus serupa juga terjadi pada Rueben Nsemoh di tahun 2016, di mana ia terbangun dari koma dan tiba-tiba seperti fasih berbahasa Spanyol. Kemampuannya berbahasa Spanyol bertahan beberapa minggu ketika bahasa pertamanya, bahasa Inggris, mulai muncul kembali.3 Diketahui bahwa Rueben pernah belajar bahasa Spanyol tapi tidak sampai fasih. Dokter menyebut Rueben mengalami FAS atau Foreign Accent Syndrom. Kembali lagi ke tahun 2012, seorang kakek berkebangsaan Inggris berusia 81 tahun, Alun Morgan, mengalami struk dan ketika tersadar, ia tiba-tiba mampu berbahasa Welsh. Agak berbeda dengan McMahon dan Rueben, Morgan tidak pernah belajar sama sekali Welsh, namun ketika Perang Dunia II, ia memang pernah dievakuasi dan tinggal di Welsh semasa kecilnya. Ketika bahasa Inggrisnya mulai kembali, ia mulai gagap menggunakan bahasa Welsh. Dokter pun mengdiagnosanya mengalami Aphasia.4

Baca juga:
– Kesadaran https://www.aprianti.com/2022/11/24/kesadaran/
– Problem kesadaran https://www.aprianti.com/2022/10/24/problem-kesadaran/

Kontekstualisasi diagnosa Aphasia dan FAS yang diberikan para Dokter kepada McMahon, Reuben, dan Morgan, pernah dibahas dalam penelitian Neuropsikologis dengan judul A Case of Foreign Accent Syndrom (Gurd et al., 1988). FAS adalah sindrom ketidakmampuan seseorang untuk membuat phonemic dan phonetic yang selalu dilakukan. FAS terjadi ketika sirkuit cortial-subcortial terganggu (bisa dengan kecelakaan), yang mempengaruhi produksi kata-kata yang dianggap normal oleh otak tidak dapat berfungsi dengan baik. Konsekuensinya, sirkuit cadangan muncul dengan cara mengontrol otot-otot yang berkaitan dengan kemampuan bicara seseorang seperti bibir, mulut, dan rahang (speech articulators).5 Ketika sirkuit dalam otak yang mengatur artikulasi seseorang terganggu, maka percepatan, kordinasi, hingga pergerakan otot-ototnya tidak akan sinkron, sehingga berubah secara otomatis (The Conversation, 2013). Kita bisa menyimpulkan bahwa otak McMahon merespons kecelakaan dan koma yang dialaminya dengan cara mengordinasi otot-otot untuk bicara (speech) dengan kemampuan bahasa non-aslinya. Tapi FAS juga bukan berarti menjadikan seseorang yang mengalaminya betul-betul fasih atas bahasa sekunder yang ia gunakan. FAS hanya menjelaskan bagaimana yang mengalaminya berkemungkinan memiliki aksen sekunder sangat mirip dengan orang aslinya. Bisa saja bahasa sekunder yang digunakan tidak sepenuhnya benar. FAS bisa terjadi bersamaan dengan Aphasia, di mana seseorang akan mengalami kekacauan dan kesulitan memproses suatu bahasa, utamanya bahasa pertamanya. Tapi, Aphasia tidak mempengaruhi inteligensi seseorang yang mengalaminya (Aphasia, 2016). 

Yang terjadi pada McMahon, hanya sebuah glitch pada mesin speech articulators. Dengan terjadinya glitch, kemampuan berbahasa normal McMahon terganggu. Di sisi lain, otak McMahon seolah memberikan peluang bagi McMahon untuk mengeksplorasi lebih lanjut bahasa sekundernya. Otak McMahon yang rusak karena kecelakaan, justru menjadi kesempatan yang aneh dan misterius untuk belajar Mandarin lebih lanjut. 

Koma telah menjadikan qualia (Ramachandran & Hirstein, 1997) McMahon begitu unik sekaligus mengherankan seperti kasus-kasus lain yang terjadi pada Rueben dan Morgan. Bahkan pada kasus Morgan, otaknya telah menyimpan memori-memori semasa kecilnya begitu rapat, ketika ia disekelilingi oleh orang-orang yang berbahasa Welsh, lantas baru terasa ketika stuk di umur tuanya. Begitu hebatnya otak dengan jutaan sirkuit yang memiliki fungsi terspesifikasi yang berbeda-beda. Ketika seseorang mengalami koma, otak beraktivitas secara minimal. Dalam usaha yang minimal ini, pada kasus McMahon, otak telah luar biasa menanggulangi permasalah kerusakan otaknya dengan kemampuan bicara McMahon meskipun bukan dengan bahasa aslinya. 

Situasi yang dialami McMahon secara menyeluruh masih merupakan misteri. Dalam hal Neurosains, persoalan ini masuk ke dalam kategori easy dan juga hard problem. Pada bagian easy, kasus di atas dijelaskan oleh FAS dan Aphasia. Tapi lebih lanjut pada persoalan hard (Chalmers, 1995), kesadaran manusia ketika koma dan kecelakaan otak, dan pengaruhnya pada qualia masih menjadi pertanyaan besar. 


Referensi

  • Aphasia. (2016, February 5). Shaping the lips, placing the tongue, positioning the jaw – how we produce the right speech sounds. National Aphasia Association. https://www.aphasia.org/stories/shaping-the-lips-placing-the-tongue-positioning-the-jaw-how-we-produce-the-right-speech-sounds/
  • Brice, M. (2012, December 31). Stroke Victim Wakes Only Speaking Language He Never Formally Learned. Medical Daily. https://www.medicaldaily.com/stroke-victim-wakes-only-speaking-language-he-never-formally-learned-244096
  • Caba, J. (2014, September 9). Australian Man Comes Out Of Coma Able To Speak Mandarin Fluently, But Not English. Medical Daily. https://www.medicaldaily.com/australian-man-comes-out-coma-able-speak-mandarin-fluently-not-english-302046
  • Chalmers, D. J. (1995). Facing up to the problem of consciousness. Journal of Consciousness Studies, 2, 200-219.
  • Gurd, J. M., Bessell, N. J., Bladon, R. A. W., & Bamford, J. M. (1988). A case of foreign accent syndrome, with follow-up clinical, Neuropsychological and phonetic descriptions. Neuropsychologia, 26(2), 237-251. doi:10.1016/0028-3932(88)90077-2
  • MacDonald, F. (2016, October 26). An English-Speaking Teenager Has Woken Up From a Coma Speaking Fluent Spanish. ScienceAlert. https://www.sciencealert.com/people-keep-waking-up-from-head-injuries-speaking-a-different-language
  • Morgans, J. (2019, June 27). Meet the Guy Who Woke From a Coma Speaking Another Language. VICE. https://www.vice.com/en/article/3k3w8w/meet-the-guy-ben-mcmahon-who-woke-from-a-car-accident-coma-speaking-chinese-language
  • Nickels, L. (2013, June 19). Explainer: what is foreign accent syndrome? The Conversation. https://theconversation.com/explainer-what-is-foreign-accent-syndrome-15295Ramachandran, V. S., & Hirstein, W. (1997). Three laws of qualia: what neurology tells us about the biological functions of consciousness. Journal of Consciousness Studies, 4, 429-257.

Footnotes:

  1. Wawancara McMahon dengan Vice di https://www.vice.com/en/article/3k3w8w/meet-the-guy-ben-mcmahon-who-woke-from-a-car-accident-coma-speaking-chinese-language (2019). ↩︎
  2. Selanjutnya dalam berita https://www.medicaldaily.com/australian-man-comes-out-coma-able-speak-mandarin-fluently-not-english-302046 (2014). ↩︎
  3. Selanjutnya dalam berita https://www.sciencealert.com/people-keep-waking-up-from-head-injuries-speaking-a-different-language (Science Alert, 2016). ↩︎
  4. Selanjutnya dalam https://www.medicaldaily.com/stroke-victim-wakes-only-speaking-language-he-never-formally-learned-244096 (2012) ↩︎
  5. “...the brain has done all the work to form a message, find the right words that will express it, figure out the grammatical rules that will put the sentence together in a meaningful message, and now that it’s ready to issue the commands to the articulators to start speaking… there is a glitch in the machinery that sends instructions to the muscles, and the sounds come out wrong.” (Aphasia, 2016). ↩︎

Categories

error: Sorry, content is protected!