
Buku The Second Sex (Penguin, 1972) ditulis de Beauvoir ke dalam dua Buku (volume), yaitu Book One berjudul Facts and Myths dan Book Two berjudul Woman’s Life Today. Book One terdiri dari 3 bagian, yang berjudul 1) Destiny, 2) History, dan 3) Myths. Bagian pertama: Destiny atau Takdir memiliki 3 sub-bab, yaitu a. The Data of Biology, b. The Psychoanalytic Point of View, dan c. The Point of View of Historical Materialism. Bagian kedua: History atau Sejarah memliki 5 sub-bab, yaitu a. The Nomads, b. Early Tillers of the Soil, c. Patriarchal Times and Classical Antiquity, d. Through the Middle Ages to Eighteenth-century France, e. Since the French Revolution: The Job and the Vote. Lalu bagian ketiga: Myths atau Mitos-mito memiliki 3 sub-bab, yaitu a. Dreams, Fears, Idols, b. The Myth of Woman in Five Authors, c. Myth and Reality. Selanjutnya Book Two terdiri dari 4 bagian, yang berjudul 1) The Formative Years, 2) Situation, 3) Justification, dan 4) Towards Liberation. Bagian pertama, atau keempat dari bagian terakhir Book One, memiliki 4 sub-bab, yaitu a. Childhood, b. The Young Girl, c. Sexual Initiation, d. The Lesbian. Bagian kelima: Situation memiliki 6 sub-bab, yaitu a. The Married Woman, b. The Mother, c. Social Life, d. Prostitutes and Hetairas, e. From Maturity to Old Age, f. Woman’s Situation and Character. Bagian keenam: Justifications memiliki 3 sub-bab, yaitu a. The Narcissist, b. The Woman in Love, c. The Mystic. Bagian terakhir atau ketujuh: Towards Liberation memiliki 2 sub-bab yaitu a. The Independent Woman, dan ditutup oleh Kesimpulan.
Destiny
The Data of Biology
Perempuan seringkali didefinisikan hanya berdasarkan fungsi rahimnya. “She is a womb, an ovary; she is female.” Pendefinisian ini memiliki muatan menghina. Perempuan dibuat tidak bangga dengan kondisi alamiahnya (kepemilikan rahim). Berbeda dengan laki-laki yang akan dengan bangga mendefinisikan dirinya “Aku laki-laki!” “He is a male!”. Kata “perempuan” memenjarakan perempuan itu sendiri. Konotasi seperti sluggish, eager, artful, stupid, callous, lustful, ferocious, abased, disematkan oleh laki-laki yang anggap perempuan sebagai manusia dengan fungsi reproduksi saja.
Pembagian biner dalam dualitas bertentangan ini tidak pernah universal. Apalagi dalam konteks kingdom animalia (yang mana manusia itu berkingdom animalia). De Beauvoir lalu menjabarkan bagaimana beberapa hewan dan juga tumbuhan melakukan pembuahan secara aseksual atau partenogenesis (pembelahan atau pemotongan). Lalu, bagaimana sperma dan sel telur tidak melulu perlu didapat dari dua orang yang berbeda (i. e. heteroseksual), karena faktanya, sel-sel reproduktif itu dapat diproduksi oleh orang yang sama. De Beavoir menunjuk para ilmuwan biologi yang selalu memiliki misi melakukan pembedaan dualitas itu. Ada dua perspektif, 1) ilmuwan yang percaya bahwa pembuahan dari dua individu berbeda (ovaries and testes) merepresentasikan kemajuan revolusioner, 2) ilmuwan yang justru menyebut bahwa kondisi pembedaan itu primitif, dan pada saat yang bersamaan menyebut manusia hermaprodit itu merepresentasikan keadaan yang buruk. Padahal, keduanya itu tidak bisa dihindari di kehidupan nyata, dan sama-sama berkontribusi pada keberlangsungan spesies. Bagi de Beauvoir, diferensiasi gamet hanya kebetulan.
Kehidupan manusia pada mulanya, menurut mitos-mitos Platonik, adalah laki-laki, perempuan, dan hermaprodit. Setiap individu memiliki dua wajah, empat tangan, empat kaki, dan dua tubuh yang bergabung (seperti bayi kembar siam). Pada suatu waktu, mereka terbagi ke dalam dua bagian, dan sejak itu mereka saling mencari bagian lainnya untuk bergabung kembali. “Each individual had two faces, four arms, four legs, and two conjoined bodies. At a certain time they were split in two, and ever since each half seeks to rejoin its corresponding half.”
Seringkali, mitos tersebut dianggap sebagai cerita cinta: pencarian soulmate. Tapi bagi de Beauvoir, di sini lah juga terletak misi pembagian individu (division into sexes). Pentingnya pembagian atau diferensiasi antara perempuan dan laki-laki ini juga tercermin dari pemikiran beberapa filsuf lain. Misalnya, St. Thomas menyatakan bahwa keadaan alamiah seksualitas perempuan sebagai insidentil, kebetulan. Lalu, Hegel menyatakan pentingnya diferensiasi seksual sebelum kopulasi agar tercipta individu baru (1972: 38). Dalam Philosophy of Natur, Hegel menyebutkan, “Thus man, in consequence of that differentiation, is the active principle while woman is the passive principle because she remains undeveloped in her unity.” (1972: 41)
Beauvoir menekankan bahwa keberlangsungan spesies tidak memerlukan-mengharuskan terjadinya diferensiasi seksual. Di masyarakat matriarki primitif, laki-laki tidak memainkan peran penting dalam konsepsi. Mereka percaya bahwa kelahiran individu baru disebabkan oleh spirit leluhur yang menemukan jalannya ke tubuh maternal perempuan. Tubuh perempuan dalam konteks ini dihormati dan dipuja sebagai wujud magis. Lantas ketika patriarki mulai terinstitusionalisasi, laki-laki mulai melakukan klaim atas individu baru itu sebagai penerusnya, dan dimulailah babak bagaimana perempuan dianggap sekadar tempat transit pembuahan yang dilakukan laki-laki, “It was still necessary to grant the mother a part in procreation, but it was conceded only that she carried and nourished the living seed.” (1972: 40).
Perspektif demikian juga dilayangkan oleh filsuf seperti Aristoteles dan Hipokrates. Aristoteles menyebutkan bahwa fetus dihasilkan dari penggabungan sperma dan darah menstruasi, di mana perempuan hanyalah materi pasif (passive matter), dan laki-laki lah yang menciptakan kehidupan. Hiporaktes juga mempercayai doktrin serupa. Ia mengakui dua bentuk benih, yaitu benih lemah (perempuan) dan benih kuat (laki-laki). Ide-ide tersebut dijustifikasi oleh para ilmuwan, utamanya di akhir abad ke-17 hingga abad ke-19. Ilmuwan anatomi dari Denmark, Steno, memberikan nama bagian rahim hingga vagina perempuan sebagai feminine testicles. Di tahun 1694, ilmuwan dari Belanda, Hartsaker, menggambarkan bahwa terdapat homunculus tersembunyi di dalam spermatozoon. Hipotesisnya selalu berangkat dari perspektif bahwa laki-laki lah yang menciptakan kehidupan, sementara sel telur atau anatomi perempuan tidak memiliki materi yang aktif.
Perempuan dan laki-laki dibedakan berdasarkan gamet (sperma dan sel telur) yang diproduksinya. Ketika sperma dan sel telur bersatu dalam pembuahan (fertilisasi), telur yang telah dibuahi akan memiliki dua set kromosom (48 di manusia). Apabila fertilisasi dilakukan oleh sperma berkromosom X, maka telur yang dibuahi akan berkembang menjadi XX (perempuan). Apabila fertilisasi dilakukan oleh sperma berkromosom Y, maka telur yang dibuahi akan berkembang menjadi XY (laki-laki). Kromosom yang bersatu itu memuat faktor-faktor keturunan yang terfertilisasi secara setara. De Beauvoir hendak menunjukkan bahwa gamet-gamet itu tidak bisa dianggap salah satu lebih superior daripada yang lainnya. Ketika mereka bersatu, mereka akan sama-sama kehilangan individualitasnya dan melebur menjadi telur yang dibuahi (fertilized eggs). “Male and female gamets fuse in the fertilized eggs; they are both suppressed in becoming a new whole.” (1972: 45). Di bagian ini, de Beauvoir menjelaskan bagaimana pembuahan terjadi, dan menunjukkan argumen fisik (secara alegoris)––sperma itu lebih kecil daripada sel telur, sel telur menjadi figur esensial bagi terciptanya embrio––yang membuktikan bahwa perempuan bukan terdiri dari materi-materi pasif (silakan cek halaman 43-44). Salah sekali apabila kita menganggap bahwa 1) sel telur secara rakus menelan sperma, dan atau 2) sperma berperan sebagai komandan dan sel telur sebagai pasukan yang siap diperintah. Dua gamet sperma dan sel telur memiliki peran yang fundamental dan setara.
“The two gametes at once transcend and perpetuate themselves when they unite; but in its structure the eggs anticipates future needs, it is so constituted as to nourish the life that will take within it. The sperm, on the contrary, is in no way equipped to provide for the development of the embryo it awakens. On the other hand, the egg cannot provide the change of environment that will stimulate a new outburst of life, whereas the sperm can and does travel. Without the foresight of the egg, the sperm’s arrival would be in vain; but without the initiative of the latter, the egg would not fulfil its living potentialities.” (1972: 45).
Tentu membahas kromosom seks tidak sesederhana mereduksinya ke dalam kategori perempuan dan laki-laki belaka. Dalam hal ini, determinasi karakteristik seks juga bisa saja bergantung pada nutrisi yang diterima oleh embrio (semut, lebah). De Beauvoir mencontohkan bagaimana hewan-hewan melakukan pembagian tugas dalam menciptakan (creation) dan mempertahankan spesiesnya (perpetuation, maintenance). Pada kehidupan mamalia, termasuk manusia, de Beauvoir menyebut bahwa perempuan menjadi korban spesies karena menjalani hidupnya berdasarkan dua fase, yaitu 1) fase ketika sel telur mulai matang dan dinding rahim menebal, dan 2) fase ketika sel telur menghilang karena terjadi menstruasi, kecuali fertilisasi dilakukan maka fase kedua diganti oleh fase mengandung (pregnancy). Pembuahan perlu dilakukan ketika masa ovulasi, yaitu di akhir fase pertama, yang sering disebut periode aktivitas seksual. Masa ovulasi menjadi masa yang panas (heat), di mana kebutuhan seksual meningkat, dan hasrat mencari semen-sperma menggebu (aktif). Paradoks terjadi ketika di satu sisi, ketika terjadi koitus, perempuan akan tunduk pada penetrasi dan fertilisasi internal. Aktivitas seksual dikondisikan menjadi medium pengalaman internal, privat (perlu ditutupi), dan bukan menunjukkan relasinya dengan dunia luar.
Keadaan paradoks (mungkin juga kata alternatif lain: ambigu), dirasakan oleh perempuan, pemilik rahim, ketika mengalami fertilisasi. Ketika laki-laki mengeluarkan spermanya, sperma itu menjadi asing bagi si laki-laki, tapi setelahnya, laki-laki akan langsung memiliki kembali ke-individualitas-an-nya. Berbeda dengan sel telur: ia akan memisahkan diri dari tubuh perempuan (muncul dari folikel dan jatuh di saluran telur/tuba falopi), tapi ketika fertilisasi terjadi, ia akan kembali menempel pada uterus/rahim. Menurut de Beauvoir, kejadian ini telah menghina (violate) lalu mengalienasi perempuan itu sendiri. Bagiannya, menjadi lain daripada dirinya (another than herself). Ketika perempuan tidak sedang hamil, baru lah ia dianggap setara dengan laki-laki: misalnya, karena mampu berburu dengan cepat dan cerdas seperti laki-laki. Individualitasnya dianggap menjadi penuh ketika tidak sedang hamil.
Kemampuan melakukan transendensi, dalam hal ini, mengeluarkan sperma ketika koitus (dominasi yang diafirmasi di atas perempuan), dijadikan justifikasi pemikiran bahwa laki-laki memiliki subjektivitas, sementara perempuan terus menetap dalam lingkungannya saja (tidak bisa berrelasi dengan dunia luar). Lantas, subjektivitas dan diferensiasi menunjukkan sebuah konflik. Sebelum melakukan koitus, laki-laki akan klaim kapabilasnya dalam melanjutkan keturunan. Klaim ini menjadi alat untuk berlomba dengan sebayanya dalam hal paling mampu membuat spesies baru, dan hal ini mengonfirmasi individualitasnya.
Baik produksi sperma dan sel telur tidak lah melelahkan. Yang melelahkan itu adalah ketika sel telur yang dibuahi berkembang di dalam rahim. “…the development of the embryo is an active, living process, not a mechanical unfolding.” Beauvoir ingin menunjukkan bahwa creating dan maintining itu jadi proses penciptaan yang perlu terkordinasi. Sel telur yang dibuahi, berhasil karena 1) sperma yang karena vitalitasnya dapat dipertahankan (maintained) dalam sel telur yang dibuahi, dan 2) sel telur yang mampu melewati periode perkembangan. Tanpa kedua proses ini, maka sel telur yang dibuahi tidak akan berhasil. Beauvoir tekankan bahwa kedua proses maintaining dan creating adalah sama-sama aktif: merupakan sintesis untuk menjadi (individu baru, manusia baru).
“To maintain is to deny the scattering of instants, it is to establish continuity in their flow; to create is to strike out from temporal unity in general an irreducible, separate present.” (1974: 57).
Hanya saja, ketika sel telur yang dibuahi berkembang, tubuh perempuan dibuat perlu (menjadi) beradaptasi terhadap kebutuhan sel telur itu daripada kebutuhannya sendiri. “…the woman is adapted to the needs of the egg rather than to her own requirements.” Lebih daripada itu, ketika menstruasi terjadi (gagalnya pembuahan), tubuh perempuan juga menjadi teater (the theatre of a play) yang diperuntukkan untuk situasi yang terjadi di rahimnya. Anglo-Saxons menyebut menstruasi sebagai sebuah kutukan (curse), de Beavoir tidak mengelak itu dan juga menyebut bahwa menstruasi itu beban (burden). Beban yang Beauvoir maksud merujuk pada keadaan yang dialami perempuan ketika terjadi mestruasi, yang ia sebut “…affect the central nervous system, etc…” yang mana memiliki konsekuensi: sakit kepala, menjadi overreaktif, lebih emosional, gampang panik, jiwanya terganggu (1974: 61). Saya kira, kita perlu berhati-hati di sini: bahwa yang hendak de Beauvoir tekankan, bukan justifikasi stereotip “PMS” yang memiliki konotasi seksis, tapi ia ingin menunjukkan bahwa ketika menstruasi, perempuan mengalami pengalaman asing (alien) dan obskur.
“It is during her periods that she feels her body most painfully as an obscure, alien thing; it is, indeed, the prey of a stubborn and foreign life that each month constructs and then tears down a cradle within it; each month all things are made ready for a child and then aborted in the crimson flow. Woman, like man, is her body; but her body is something other than herself.” (1974: 61).
Alienasi tersebut semakin mendalam ketika fertilisasi terjadi (ketika sel telur dibuahi dan lalu diam di rahim, berkembang di sana). Periode kehamilan memang tidak akan mengancam nyawa sang Ibu apabila ternutrisi dengan baik. Namun de Beauvoir tidak mau terlampau optimis soal ini, karena pada kenyataannya periode kehamilan adalah periode yang paling melelahkan (fatiguing): membutuhkan pengorbanan besar dan bukan untuk dirinya sendiri. Implikasi perubahan anatomi termasuk hormon pada perempuan tidak selesai ketika periode kehamilan, tapi berlanjut ketika masa menyusui (nursing). Dari mulai kehilangan selera makan, sering muntah, demam, kekurangan (zat) fosfor, kalsium, dan besi, dan ketika kondisi kebersihan sekelilingnya buruk bisa menyebabkan permasalahan di bagian vagina (seperti nifas yang tidak dibersihkan dengan baik karena kekurangan akses air). Belum lagi ketika vagina perlu diperlebar (episiotomi-lalu dijahit) ketika bayi yang keluar besar dan vagina tidak cukup elastis. Periode menyusui juga sangat melelahkan: keluarnya air susu yang mempengaruhi hormon prolaktin (biasanya, payudara menjadi sakit), atau menyusui sulit dilakukan karena stress (…nursing mother feeds the newborn from the resources of her own vitality.” dan mengalami baby blues.
Karena kepemilikan rahim ini, perempuan disebut “have infirmity in the abdomne” memiliki abdomen yang lemah. Bagaimana bisa disebut demikian? Padahal ketika periode kehamilan, dalam abdomen itu terdapat dzat yang agresif yang telah menyerap tenaga tubuh maternalnya.
Perempuan pun secara ironi terlepas dari cengkeraman alienasi yang terjadi karena mengandung ketika terjadi menopaus––dalam rentang umur 45 hingga 50 tahun. Aktivitas rahim hilang, hasrat seksualitas meningkat, tapi ia juga tidak lagi disukai (karena anggapan sudah tua). Pada masa menopaus, perempuan seperti menemui-menjadi dirinya yang ketiga (a third sex), bukan laki-laki, bukan juga perempuan. Ia tidak lagi menjadi calon mangsa dairpada predator dengan vitalitas yang berlimpah. Ia menjadi dirinya sendiri, dia dan tubuhnya menjadi satu.
“And what is more, she is no longer the prey of overwhelming forces; she is herself, she and her body are one.” (1974: 63).
Subordinasi perempuan terus berlangsung. Dari masa pubertas, menopaus, kutukan bulanan, periode kehamilan, ketika melahirkan, dan sebagainya. Perempuan pernah menjadi yang paling teralienasi, juga yang paling menantang alienasi itu, dan tetap dipaksa-diperbudak untuk menjadi organisme yang terus melakukan reproduksi sekalipun tidak rela.
Pertimbangan diskursus biologi ini penting dilakukan karena pada bentang sejarahnya telah dinormalisasi justifikasi biologis bahwa perempuan menempati posisi kedua dan pasif dalam hal keberlangsungan spesies. Memahami diskursus biologi (khususnya dalam persoalan diferensiasi seks), menjadi salah satu cara memahami eksistensi perempuan. Beauvoir menentang bahwa takdir–yang sering kita sebut kodratiah–perempuan didefinisikan sekadar tempat transit untuk mengandung, melahirkan, menyusui. Hal itu bukanlah takdir yang ajeg dan tidak bisa dihindari. Ia juga menentang sistem komparasi atau hirarki evolusioner yang dianggap alamiah (i. e. Physiological parallelism), seperti manifestasi perilaku seksis karena justifikasi bahwa otak perempuan lebih kecil daripada otak laki-laki, lantas inteligensia perempuan pun dianggap tidak akan melebihi inteligensia laki-laki.
Justifikasi biologis tersebut tidak cukup untuk menjelaskan mengapa perempuan itu adalah Yang Lain atau Other. “Why is woman the Other?” Justifikasi biologis tersebut tidak sama sekali mengutuk perempuan untuk terus berada pada perannya yang tersubordinasi.
Marleau-Ponty menyebut bahwa laki-laki bukanlah spesies yang alamiah, dia itu ide historis. Dan perempuan bukanlah realitas yang selesai (completed reality), tapi selalu menjadi (becoming). Pada proses menjadi ini lah kemungkinan-kemungkinan (possibilities) untuk klaim individualitasnya dapat dilakukan. Fakta-fakta seperti: perempuan lebih lemah daripada laki-laki karena memiliki sedikit kekuatan otot, memiliki kapasitas jantung yang lebih kecil, memang benar. Konsekuensinya, keleluasaaan ia di dunia lebih terbatas, dan eksplorasi ke-individualitas-annya tidak sekaya laki-laki. Tapi hal ini harusnya tidak menjadi signifikansi atas eksistensinya. Beban perempuan untuk menjalani peran maternal atas hidupnya, bukanlah alamiah, tapi ditentukan-dikonstruksi oleh masyarakat (society… is the arbiter). Karenanya, kemungkinan eksplorasi klaim individualitas bagi perempuan bergantung pada situasi ekonomi dan sosialnya. (cek hal. 67-68).
[Kondisi alamiah] Tubuh perempuan (woman is a womb, tota mulier in utero) adalah unsur esensial bagi faktisitasnya di dunia. Tapi tubuh itu tidak cukup untuk mendefinisikannya sebagai perempuan. Hidupnya yang sejati termanifestasi dalam kegiatannya sehari-hari yang penuh berkesadaran di dalam masyarakat.
to be continued!

