Ars Erotica dan Scientia Sexualis: bagian 2

Posted

by

Terjemahan dari ringkasan Sparknotes

Ringkasan

Seks adalah tema spesial dalam pengakuan karena secara umum kehidupan seks itu sesuatu yang tersembunyi, rahasia yang harus ditutup secara rapat. Pendengar, dan bukan pembicara, memiliki posisi yang lebih tinggai sebagai otoritas, dan tindakan pengakuan dilihat sebagai upaya yang terapeutik. Di abad ke-19, psikiater mencoba untuk menggabungkan pengakuan dan diskursus ilmiah untuk menghasilkan “ilmu tentang pengakuan-pengakuan seks”. Foucault mencatat terdapat 5 hal bagaimana pengakuan dan ilmu dipersatukan.

5 haltujuan
Metode terkodifikasi, pemeriksaan, hipnosis, teknik free-associationDikembangkan untuk meregulasi ekstrasi yang didapat dari pengakuan
Seks sebagai penyebab dan penjelasanSeks menjawab mengapa terdapat perbedaan perilaku seksual melalui pengakuan-pengakuan
Seks sebagai sesuatu yang latenKarena laten, maka itu perlu ‘dikeluarkan’ melalui pengakuan
PsikiatriPsikiatri sebagai medium menginterpretasi pengakuan dengan cara memosisikan pendengar sebagai pihak yang mengerti pengakuan
Pengakuan sebagai terapeutikTerapeutik melalui tindakan medis

Oleh karena itu, tradisi pengakuan digabungkan dengan diskursus ilmiah untuk menciptakan konsep modern akan seksualitas. Konsep seksualitas jadinya malam mengurusi diskursus apa saja yang melingkupinya daripada mempersoalkan seks itu sendiri. Di sisi lain, konsep itu terhubung dengan praktik pengakuan, yang mana berurusan dengan kerahasiaan (penyakit) subjeknya. Di sisi lain, juga terhubung dengan ilmu, karena memiliki asosiasi dengan pengetahuan dan kebenaran. Konsekuensi dua diskursus yang digabungkan itu mendorong kita untuk berpikir bahwa seks adalah sesuatu yang rahasia dan (boleh) dicurigai, tapi sekaligus kunci yang dapat membantu kita menyingkap kebenaran tentang diri kita.

Di penutupannya, Foucault bertanya apakah mungkin kita bisa melihat scientia sexualis modern kita diresapi dengan pengetahuan kenikmatan yang sama yang menjadi ciri ars erotica. Daripada mendapat pengetahuan tentang kenikmatan, kita menyingkap kenikmatan menganalisis, kenikmatan belajar mengenai kenikmatan diri kita. Foucault menawarkan daripada kita melihat kekuasaan sebagai represif, kita perlu melihat kekuasaan itu sebagai dorongan menciptakan pengetahuan dan kebenaran untuk kita. [read: kekuasaan yang bukan tersentralisasi tapi tersebar/terdesentralisasi]

Analisis

Nietzche berpengaruh dalam karya-karya tulis Foucault. Karyanya ada yang mengikuti metode genealogis yang dipelajari dari Nietzche, utamanya Genealogy of Morals. Dalam esainya, Nietzche, Genealogy, and History, Foucault mendikusikan pembedaan Nietzche mengenai origin dan genealogy. Ketika kita membicarakan sesuatu sebagai yang memiliki origin, asal-usul, yang kita maksudkan adalah ia mempunyai titik awal yang tetap (fixed starting point) dari mana ia berevolusi atau berpindah sejak awal itu. Cerita Adam Hawa adalah cerita asal-usul. Karena kita dapat menunjukkan bahwa Adam Hawa adalah titik awal sejarah mausia, kita dapat mengidentifikasi dalam cerita itu apa yang esensial bagi sifat manusia. Dalam asal-usul itu kita juga menemui konsep dosa awal, juga bagaimana sekumpulan moralitas tetap yang ditentukan oleh Tuhan.

Sedangkan genealogi tidak mengidentifikasi titik awal tetap atau pemaknaan rigid akan sesuatu. Ketika kita membicarakan genealogi kita membicarakan jalan yang berputar-putar (circuitous), sering kali acak, yang membawa kita ke keadaan saat ini dari keadaan sebelumnya yang sama-sama bergantung. Kita mungkin dapat mencontohkan cerita asal-usul dengan cerita Adam Hawa dan contoh genealogis dari evolusi Darwin. Menurut evolusi Darwin, tidak ada titik awal tetap manusia, yang membuat kita mengatakan “this is our essential nature”. Teori evolusi melacak leluhur dari primata-primata yang dikarakteristikkan oleh sistem acak dan seleksi alam. Tidak ada pemaknaan atau tujuan akan rute evolusi itu, dan karenanya tidak bisa kita mengidentifikasi titik awal pasti esensi manusia.

Nietzche menggunakan perbedaan geneaologi dan asal-usus untuk melacak genealogi (silsilah) moral, dan menunjukkan bagaimana konsep kita tentang benar dan salah itu merupakan hasil kontingen dari evolusi masyarakat yang serampangan. Foucault meminjam metode genealogis ini dari Nietzsche untuk melacak genealogi konsep seksualitas. “Seksualitas” menurut Foucault, bukanlah istilah tetap yang mengidentifikasi sebuah konsep objektif di dunia. Konsep itu berevolusi di abad ke-19 sebagai hasil dari perkawinan diskursus ilmiah dan pengakuan. Sebelum abad ke-19, tidak ada yang namanya “seksualitas”. Argumen-argumen yang dibuat menunjukkan bahwa leluhur Yunani yang homoseksual atau biseksual itu salah, adalah setelah kategori (biner) dibuat di dunia modern.

Dalam melacak genealogi seksualitas ke abad ke-19 (poin utama ketika abad itu terjadi perkawinan diskursus ilmiah dan pengakuan), Foucault juga menunjukkan bagaimana begitu temporernya konsep modern kita tentang seksualitas. Foucault menuliskan 5 hal bagaimana diskursus ilmiah dan pengakuan digabungkan, menciptakan diskursus seksualitas yang fokus pada penarikan pengakuan yang terkontrol dan tersistematis (melalui institusi-institusi profesional). Diskursus ilmiah mengarahkan kita untuk berpikir akan seksualitas sebagai scientia sexualis, objek studi ilmiah yang terpisah, yang dengannya kita mendapatkan fakta dan data objektif. Seks menjadi objek pengetahuan, sesuatu yang dapat kita mengerti, kontrol, dan gunakan. Diskursus pengetahuan mengarahkan kita untuk berpikir bahwa seksualitas adalah sesuatu yang tersembunyi, rahasia, dan memalukan. Kedua diskursus itu bergabung dan menjadikan konsep seksualitas sebagai misteri, musti ditutup rapat-rapat, tapi pada saat yang sama, jika ‘dikeluarkan’ malah dikofisikasi ke dalam pengetahuan. Sebagai pengetahuan yang tersembunyi, seksualitas kita pun akhirnya (sebagai sesuatu yang eksternal, mengalami peliyanan, jadi liyan) menjadi kunci memahami siapa kita.

Foucault menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun dalam hasrat atau perilaku seksual kita yang membuat kita berpikir bahwa hal-hal tersebut mengungkapkan kebenaran mendalam tentang kita. Tapi, adalah diskursus-diskursus yang dibangun di sekitarnya yang dapat mengungkapak kebenaran. Konsep tentang seksualitas sebagai sesuatu yang mendasar bagi sifat manusia lebih berkaitan dengan evolusi diskursusnya daripada dengan fakta aktual mengenai permasalahan tersebut. Foucault menganggap kategori seksual sebagai konstruksi kontingen manusia. Karena kontribusi ini Foucault disebut konstruktivis mengenai seksualitas manusia. Di sisi lain, para esensialis, berargumen bahwa kategori seksual itu tetap, karena didapat atau dijustifikasi oleh fakta objektif ilmiah.


Featured image: http://www.sutrajournal.com/how-deepest-tantra-saves-the-world-part-one-stuart-sovasky


Categories