Bagian I: Kita “Victorians yang Lain”

Posted

by

Terjemahan bebas-cum-catatan pribadi bagian pertama buku Michel Foucault The History of Sexuality: An Introduction (Vintage Books ed., 1990) berjudul We, Other Victorians.

Trivias about the book:

  • L’Histoire de la sexualité, 1976, 1984, 2018 (posthumously)
  • English translation first appeared, 1978
  • The book that I read: Vintage Books, 1990, translated by Robert Hurley

Kita “Victorians yang Lain”

Sudah sejak lama kita mendukung rezim Victorian dan terus didominasi olehnya hingga saat ini. Gambaran kekaisarannya terlihat dari seksualitas kita yang dikendalikan, dibungkam, dan begitu munafik.

Sejak abad ke-17, suatu keterusterangan masih merupakan sesuatu yang biasa. Praktik-praktik seksual tidak begitu ditutup-tutupi; kata-kata terucap tanpa ketakutan dibungkam, dan banyak hal dilakukan tanpa perlu disembunyikan; kita begitu toleran terhadap sesuatu yang (sekarang) dilarang. Hukum-hukum yang mengatur para ‘cabul’ itu bisa dibilang lebih longgar daripada yang terjadi di abad ke-19. Di abad ke-17, gestur-gestur terjadi begitu terbuka, langsung, ‘telanjang’, ketika anatomi-anatomi tubuh terbuka dan saling bersentuhan apabila dikehendaki… sebuah periode ketika tubuh-tubuh menampilkan dirinya “made a display of themselves.

Tapi senja segera tiba di hari yang cerah ini, diikuti oleh malam-malam monoton kaum borjuis Victoria. Seksualitas menjadi hal yang dibatasi secara hati-hati, dipindahkan ke rumah-rumah. Para pasangan suami istri menjadi ‘pemilik’ urusan seksualitas dan menjadikannya sekadar fungsi reproduksi. Dalam hal seks, keheningan menjadi aturannya. Para pasangan itu diposisikan sebagai legitimator. Pasutri menjadi moder, norma, kebenaran yang dijaga, dan hanya yang boleh berbicara mengenai itu. Locus tunggal seksualitas telah diakui di ruang sosial dan di ruang rumah tangga, yang utilitarian dan subur: di kamar orang tua ‘the parent’s bedroom’. Selain mereka berarti harus menjadikan tubuhnya berjarak satu sama lain, kesopanan verbal juga harus dilakukan dalam rangka sanitasi masing-masing; kalau tidak dilakukan akan disebut abnormal; kalau terlalu terlihat maka akan dihukum dan diminta membayar biaya penalti.

Tidak ada sesuatu pun yang tidak diatur yang konsekuensinya mendapat sanksi atau perlindungan. Tidak ada ruang untuk bisa diadili (a hearing). (Yang dianggap abnormal) akan langsung ditolak dan dibungkam. Bukan hanya supaya tidak eksis, tapi memang diposisikan tidak punya hak untuk hidup, jadi diperbolehkan untuk dihilangkan. Setiap orang tahu bahwa anak kecil tidak melakukan seks, lantas kenapa mereka juga dilarang membicarakannya.

“…why one closed one’s eyes and stopped one’s ears whenever they came to show evidence to stopped one’s ears whenever they came to show evidence to the contrary, and why a general and studied silence was imposed.”

Hal yang dilakukan adalah ciri dari represi, yang berfungsi untuk membedakannya dari larangan yang dipertahankan oleh hukum pidana:

Repression operated as a sentence to disappear, but also as an injunction to silence, an affirmation of nonexistence, and, by implication, an admission that there was nothing to say about such things, nothing to see, and nothing to know.”

Ini adalah kemunafikan dari masyarakat borjuis dengan logikanya. Apabila diperlukan untuk ruang bagi seksualitas yang tidak dilegitimasi, maka hal itu bisa diatur dan dirasionalisasi: ruang-ruang yang dapat mengintegrasikan mereka kembali, yang sekaligus memberikan profit. Rumah prostitusi dan rumah sakit jiwa menjadi ruang toleran itu: pekerja prostitusi, para klien, para mucikari, bersama dengan psikiater dan pasien-pasiennya–Victorian lainnya, seperti yang Steven Marcus bilang–diam-diam memindahkan kenikmatan tak terucap ke dalam aturan-aturan yang dikalkulasi. Kata-kata dan gestur diam-diam dianalisis. Hanya di tempat itu seks dilepaskan dan memiliki ruang di realitas, namun dalam rangka dirahasiakan, dibatasi, dan dimasukkan ke dalam diskursus. Di tempat lain, puritanisme moden membuat aturan ketat tentang yang tabu, non-eksisten, dan pembungkaman (taboo, nonexistence, and silence). 

But have we not liberated ourselves from those two long centuries in which the history of sexuality must be seen first of all as the chronicle of an increasing repression?

Mungkin kemajuan pembahasan tentang seksualitas telah dilakukan oleh Freud; meskipun dengan penuh kehati-hatian, dalam hal medis…, di ruang yang paling aman dan rahasia, di antara sofa dan diskursusnya: tapi tetap saja terjadi bisikan-bisikan di ranjang. [Orang tetap tidak leluasa membicarakan seks sekalipun ada ruang ‘aman’ psikiatri itu]. And could things have been otherwise? Kita diberi tahu bahwa represi telah menjadi dasar bagi relasi antara kekuasaan, pengetahuan, dan seksualitas sejak periode klasik; menyatakan bahwa kita tidak akan pernah terbebas dari represi itu kecuali dengan bayaran yang setimpal: 

Nothing less than a transgression of laws, a lifting of prohibitions, an irruption of speech, a reinstating of pleasure within reality, and a whole new economy in the mechanisms of power will be required.”

Pengkondisian oleh politik sering terjadi. Oleh karena itu, kita tidak bisa sekadar berharap mencapai hasil itu dari praktik medis saja, atau diskursus teoritis, ilmu rigorus… Maka dari itu, diskursus tentang represi seksualitas modern berarti perlu menyinggung domain sejarah dan politik yang berlaku. Represi menjadi bagian integral bagi aturan borjuasi. 

The minor chronicle of sex and its trials is transposed into the ceremonious history of the modes of production; its trifling aspect fades from view.


If sex is so rigorously repressed, this is because it is incompatible with a general and intensive work imperative.

Ketika kapasitas buruh secara sistematis dieksploitasi, bagaimana mungkin kapasitas tersebut diperbolehkan untuk mendapatkan kenikmatan (pleasure)–kecuali dalam konteks minimum, yaitu hanya untuk reproduksi? [Orang-orang dikondisikan menjadi buruh yang dieksploitasi; yang memiliki konsekuensi: seks dilakukan hanya sekadar reproduksi, tidak untuk rekresiasi karena tidak ada waktu untuk itu, waktu habis untuk bekerja!!!!!] Seks dan efeknya mungkin tidak begitu mudah untuk diuraikan; di sisi lain, represinya, mudah dianalisis. Dan isu seksual–tuntutan kebebasan seksual, juga termasuk pengetahuan yang didapat dari seks dan hak untuk berbicara mengenai seks–secara sah memiliki asosiasi dengan isu politik: sex too is placed on the agenda for the future. Bagi kalian yang penuh dengan kuriositas mungkin bertanya, dalam rangka menjelaskan sejarah seksualitas, mengapa begitu banyak precautions. Karena precautions tersebut penting dalam rangka mendefinisikan hubungan antara SEKS DAN PENGETAHUAN dalam konteks represi. “If sex is repressed, that is, condemned to prohibition, nonexistence, and silence, then the mere fact that one is speaking about it has the appearance of a deliberate transgression.” Karenanya, ketika ada seseorang yang menempatkan dirinya seperti itu maka akan menyinggung hukum yang berlaku [yang bagi Victorian regimes, pembahasan seks tidak boleh terang-terangan]. Ini menjelaskan mengapa hari ini terdapat orang yang begitu seriusnya ketika berbicara tentang seks [padahal perbincangan tentang seks harusnya dilakukan dengan biasa saja].

Karena represi diafirmasi, hal-hal yang dilarang oleh sejarah pun hanya bisa dilakukan secara diam-diam: seperti persoalan revolusi dan kebahagiaan, revolusi dan tubuh-tubuh yang berbeda, revolusi dan kenikmatan (pleasure). Apa yang mendorong kita untuk tetap membicarakan seks dalam konteks represi adalah dalam rangka melawan kekuasaan itu: menghubungkan pencerahan, pembebasan, dan berbagai kenikmatan… “to link together enlightment, liberation, and manifold pleasures; to pronounce a discourse that combines the fervor of knowledge, the determination to change the laws, and the longing for the garden of earthy delights.”

Di sisi lain, ini juga yang menjelaskan akan nilai pasar kenapa masih terjadi represi seksual. Lagi pula, kita ini adalah peradaban di mana pihak profesional dibayar untuk mendengarkan berbagai rahasia seks.

But it appears to me that essential thing is not this economic factor, but rather the existence in our era of a discourse in which sex, the revelation of truth, the overturning of global laws, the proclamation of a new day to come, and the promise of a certain felicity are linked together. Today it is sex that serves as a support for the ancient form–so familiar and important in the West–of preaching.

Khotbah tentang yang seksual–melalui kajian teologi yang subtil–telah menyeruak ke dalam tubuh masyarakat selama berabad-abad… membuat kita bermimpi akan Kota Baru (New City)–yang terbebas akannya. Contohnya adalah Franciscans. Mungkin banyak yang bertanya, memangnya mungkin religiositas yang revolusioner di dunia industrial Barat itu sebagian besar terbawa ke isu seks? Apa-apa yang dibahasnya kenapa selalu mendorong terjadinya represi seksual?

Istilah seks yang direpresi, bukanlah sekadar urusan teoritis. Afirmasi seksualitas yang ditundukkan (i. e docile body) di periode munafik (era Victorian)… semakin parah dengan munculnya disursus yang menginginkan kebenaran akan seks (kebenaran akan seks melalui psikiatri, bahkan pengakuan-pengakuan di Gereja), melalui modifikasi ekonomi, mengatur hukum yang berlaku, mengubah masa depan. Pernyataan yang sifatnya opresif dan bentuk khotbah yang subtil tentang represi seksualitas saling ‘menguatkan’ satu sama lain.

Tujuan Foucault dengan buku ini adalah untuk meneliti masyarakat yang telah menghukum dirinya sendiri karena kemunafikannya selama lebih dari satu abad… Foucault hendak mengeksplorasi bukan hanya diskursus-diskursus (discourse) yang melingkupinya tapi juga kehendak (will) yang memperpanjang intensi dan dukungan strategis mereka. Pertanyaan yang Foucault ajukan bukanlah sekadar, Why are we repressed? Tapi:

Why do we say, with so much passion and so much resentment against our most recent past, against our present, and against ourselves, that we are repressed? By what spiral did we come to affirm that sex is negated? What led us to show, ostentatiously, that sex is something we hide, to say it is something we silence?

to be continued.


Categories