Plato dalam bukunya Phaedo menyebut bahwa filsafat adalah melete thanatou, atau praktik persiapan sebelum kematian. Di abad ke 20, Albert Camus melalui karyanya Myth of Sisyphus, menekankan bahwa satu-satunya pertanyaan filsafat yang serius adalah pertanyaan tentang bunuh diri. Dalam filsafat, kematian dibahas melalui pendefinisian akan kematian itu sendiri, lalu ketakmatian (immortality), perspektif eksistensial, dan pertanyaan-pertanyaan moralis atau etis yang memicu.

Kematian mungkin bisa dibedakan berdasarkan proses sekarat, kejadiannya, atau situasi ketika mati. Di tulisan ini, kematian dapat dimengerti dari definisinya dan dari kriterianya. Definisi berarti memberi tahu kita apa itu kematian secara esensial. Sedangkan kriteria berkaitan dengan prosedur kapan kematian terjadi. Biasanya kematian secara biologis berarti berhentinya fungsi-fungsi organismik. Secara tradisional, kehilangan fungsi pernafasan bisa dibilang sama dengan kematian; hari ini, banyak filsuf mendefinsikan kematian sebagai berhentinya fungsi otak. Permasalahan konseptual berkaitan dengan kematia biologis memperhatikan fungsi psikologis juga dalam mendefinisikan kematian. Karena ketika kita hanya mendefinisikan kematian berdasarkan berhentingan fungsi pernafasan, berarti orang yang koma juga bisa kita definisikan mati, padahal tidak. Di tulisan ini disebut: “A human is dead if and only if either all breathing and circulation have permanently ceased or all brain activity has permanent ceased.” Tapi di sini kita juga perlu melihat konteks filosofis yang eksistensial ketika kematian juga dapat terjadi meskipun secara biologis masih bisa bernafas.Dalam perspektif eksistensial, kematian dapat kita pahami berdasarkan spekulasi yang terjadi setelah era Perang Dunia khususnya di Prancis dan Jerman. Pemikiran mereka bercokol pada menganalisis eksistensi manusia: moralitas dan peran dalam memutuskan bagaimana mereka hidup. Martin Heidegger dalam karyanya Being and Time (1927) mengenalkan istilah Dasein, yang hendak menjelaskan eksistensi manusia dalam dunia. Karakter utama Dasein yang esensial adalah being-toward-death. “
Every person is aware of himself or herself as mortal, of his or her life as temporally limited”.
Menurut Heidegger, eksistensi manusia yang tidak otentik adalah yang hanya terdefinisi oleh bagian-bagian besar kerumunan (das Man, the They, the One). Kita seringkali menjalani hidup berdasarkan ekspektasi the They. Ketika kita menganggap kematian sebagai kemungkinan yang akan selalu terjadi, maka kematian dipahami sebagai millik kia sendiri, own most posibility, yang tidak dapat diganggu oleh das Man. Dalam buku Being and Nothingness karya Jean-Paul Sartre, kesadaran kita terhadap being-toward-death justru akan menjadikan kita memiliki hidup yang otentik. Simone de Beauvoir dalam bukunya A Very Easy Death dan esainya Old Age berargumen bahwa seseorang tidak akan memahami sepenuhnya realitas dan signifikansi mortalitas dari perspektif orang pertama. Untuk mengapresiasinya, maka kita perlu melihat dari perspektif orang lain.
Menurut Immanuel Levinas, “A person experiences death as a limit on his or her mastery over existence, as constraining his or her freedom.” Pengalaman tersebut, adalah pengalaman persiapan untuk moralitas, karena limitasi personal diperlukan untuk memiliki relasi etis dengan orang lain.
Featured image: https://dailynous.com/2019/10/09/death-progress-philosophy/
