Tugas kampus bersama Tia.
Munculnya internet (Internet of Things), integrasi data analog-digital, dan AI (artificial intelligence), merupakan beberapa contoh produk dari perkembangan teknologi di keseharian kita. Kajian interdisipliner memungkinkan hal tersebut digunakan dengan sifatnya yang saling berkelindan dengan satu sama lainnya. Misalnya, kira-kira 12 tahun yang lalu, munculnya internet mengubah dengan cepat kebiasaan berkomunikasi (domain informasi) orang Indonesia, cara kita berbelanja kebutuhan hidup (domain sosial-ekonomi) seperti melalui Tokopedia, Lazada, Blibli, dan lainnya, juga cara/kultur bekerja kita (domain politik-ekonomi). Perubahan fenomena ini tidak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dalam mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang bisa dihasilkan atas modifikasi teknologi digital. Informasi, atau ada juga yang sebut datakrasi ini menjadi primadona dalam kultur modifikasi teknologi digital tersebut. Ini lah yang dituju, keadaan di mana masyarakat menjadi cerdas secara saintifik dan teknologi atau proses menjadi masyarakat cerdas itu sendiri (smart society).
Masyarakat Cerdas dan Karakteristiknya
Pada tahun 2016, Jepang mengeluarkan rencana dasar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui Cabinet Office tahun 2016 dengan mengangkat konsep Society 5.0. Konsep “5.0” tersebut dianggap sebagai visi dari masyarakat yang futuristik yang dituntun oleh inovasi saintifik-teknologi dan integrasi ruang fisik-ruang siber. Hal ini terwujud atas transformasi kultur industri masyarakat dari mulai hunter-gatherer society, lalu agricultural society, menuju industrial society, dan information society (H-UTokyo Lab, 2020).
Charles Levy dan David Wong dalam risetnya yang berjudul Towards a smart society (2014) dalam menjelaskan bahwa masyarakat cerdas adalah masyarakat yang sukses menyatukan potensi teknologi digital dan alat-alat yang terkoneksi dengan penggunaan jaringan digital untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.
Masyarakat 5.0/cerdas ini tidak bisa hadir apabila kota yang ditempati juga tidak cerdas dan saling mengintegrasikan satu sama lain secara digital. Maka smart city diperlukan untuk mengaktivasi segala teknologi yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan manusia dalam rangka mengembangkannya menjadi masyarakat yang cerdas. Memiliki kebutuhan yang berkelanjutan menjadi karakteristik utama masyarakat cerdas dalam membangun infrastruktur ekonomi dengan integrasi teknologi digital. Misalnya, integrasi e-KTP di Indonesia dalam rangka menjadikan suatu smart city juga perlu terintegrasi dengan kultur masyarakat yang mampu beradaptasi secara digital, seperti tidak lagi menyalin (foto copy) KTP padahal sudah ada e-KTP di mana data sudah ada di cloud (IoT). Kota yang cerdas adalah yang berisikan masyarakat cerdas, di mana AI membantu pekerjaan manusia di keseharian dengan smart technology lainnya. Ide ini hadir supaya setiap perintah (membeli makanan, baju, dsb. melalui internet) bisa dilakukan di mana saja, juga proses manufaktur bisa dikontrol dari jauh (smart cooperation). Juga bertujuan supaya setiap domain dapat bekerja bersama-sama dan mengaktifkan interaksi real-time antar ragam kota cerdas lainnya.
Tahapan Perkembangan Menuju Masyarakat Cerdas
Konsep smart society diawali oleh lahirnya teknologi internet (IoT) di era 1960-an yang menandai era digitalisasi. Selanjutnya terjadi ledakan kemajuan teknologi informasi di awal tahun 2000-an yang memudahkan orang dapat berkomunikasi dua arah secara real time dari tempat yang berbeda (fisik ft. siber). Lahirnya teknologi internet dan teknologi komunikasi membentuk masyarakat yang terhubung kapan saja dan di mana saja. Kemudian, komunitas digital ini semakin terbentuk ke arah konsepsi intercities berupa pengembangan sistem terintegrasi untuk seluruh layanan perkotaan yang bersifat online dan berdasar pada situs-situs di internet. Hal ini diperkuat dengan jejaring sosial media seperti facebook. Dampaknya adalah berkembangnya konsep smart city pada tahun 2005 menuju konsep smart society ditandai oleh pertemuan jejaring, inovasi, kreativitas, modernitas, inklusif, dan modal sosial demi mewujudkan komunitas berkelanjutan. Hal ini terjadi karena perkembangan masyarakat industri yang secara kolektif memerlukan integrasi menyeluruh (fisik ft. siber) dalam mempermudah pekerjaan profesional dan di kesehariannya.
Berikut ilustrasi untuk mempermudah memahami perkembangan sejak era masyarakat pengumpul-pemburu menuju masyarakat cerdas:
Sumber Ilustrasi: Cioruta, Bogdan-Vasile & Coman, Mirela & Cioruta, Andrei-Alin & Lauran, Alexandru. (2018). From Human-Environment Interaction to Environmental Informatics (I): Theoretical and Practical Implications of Knowledge-Based Computing. 71-82.
Kritik terhadap Konsep dan Konteks terkait Masyarakat Cerdas
Masyarakat cerdas mencirikan suatu peradaban baru yang memiliki keunggulan sekaligus kritik terhadap konsep & hasil eksekusinya. Digitalisasi dalam smart society memang menciptakan efisiensi yang menakjubkan sehingga akan meningkatkan pula produktivitas masyarakat. Banyak pekerjaan sebelumnya dilakukan oleh manusia atau oleh tenaga manusia digantikan oleh internet pintar, mesin-mesin cerdas (artificial intelligence) sebagai bentuk simulasi pemodelan kecerdasan manusia atau diprogram untuk berpikir seperti manusia bahkan bisa melampaui kecerdasan manusia. Tapi hal ini tidak lepas dari pertanyaan reflektif seperti, bagaimana seseorang mampu menjadi bagian dari masyarakat cerdas apabila literasi digital tidak dipahami secara merata pada suatu kota/daerah? Siapa yang memiliki modal dan kapital atas kepemilikan setiap hardware dan software yang digunakan oleh smart society dalam smart cities? Bagaimana dengan privasi pengguna IoT dan hubungannya dengan konteks desentralisasi internet?
Sebenarnya konsep Smart Society memiliki peranan penting dalam membangun impian masyarakat dan lingkungan yang cerdas. Tidak dapat dihindari juga karena ini akan kita lewati. Mau tidak mau, kultur industri (teknologi) juga akan mewajibkan kita beradaptasi apabila ingin bertahan hidup, atau terkuras zaman yang berkembang dengan pesat. Meski smart society memiliki tujuan membangun masyarakatnya agar menjadi lebih baik dan berkelanjutan, tetap perlu rencana yang komprehensif dan adil-struktural supaya masyarakat cerdas yang digadangkan tidak menghasilkan segregasi masyarakat yang dianggap liyan. Yang mana menurut kami, tidak akan juga terhindarkan.
Referensi
- Cioruța, Bogdan-Vasile & Coman, Mirela & Cioruta, Andrei-Alin & Lauran, Alexandru. (2018). From Human-Environment Interaction to Environmental Informatics (I): Theoretical and Practical Implications of Knowledge-Based Computing. 71-82.
- Hitachi-UTokyo Laboratory. (2020). Society 5.0 A People-centric Super-smart Society. New York: Springer Open.
- Levy, C., & Wong, D. (2014, June). Towards a smart society. Big Innovation Centre. https://www.biginnovationcentre.com/wp-content/uploads/2019/07/BIC_TOWARDS-A-SMARTER-SOCIETY-WITH-SAMSUNG_01.07.2014.pdf
- R. Mehmood, S., Bhaduri, I., & Katib, I. C. (2018). Smart societies, infrastructure, technologies and applications. New York: Springer.R. Mehmood, S., & Katib, I. C. (2019). Smart infrastructure and applications: foundations for smarter cities and societies. New York: Springer.

