Lyotard mengkritik Marxisme melalui karyanya Libidinal Economy (1974). Menurutnya, Marxisme mencoba menekan energi libidinal (seperti kapitalisme) yang juga sebenarnya, hal itu merupakan bentuk otoritarianisme laten. Konsistensi Lyotard dalam mengkritik otoritarianisme tercantum dalam bukunya yang berjudul The Postmodern Condition. Dalam bukunya, Lyotard menjelaskan bahwa pengetahuan merupakan komoditas yang bisa menjadi sumber konflik antar bangsa. Siapapun yang mengontrol pengetahuan, maka ia juga memiliki kontrol politikal. Untuk menghindari hal ini, menurut Lyotard, adalah dengan membuka akses bank data seluasnya ke publik. Hal ini berkaitan dengan kritiknya terhadap grand narratives yang seolah mempromosikan diri sebagai narasi yang dapat menjelaskan segala hal, dan seperti tidak dapat menerima kritik atau revisi. Harusnya kita bisa menghindari sikap otoritarian ini dengan merayakan little narrative (petit recit). Little narratives merupakan cara paling inventif dalam menyebarkan, dan menghasilkan pengetahuan, dan karena dapat membongkar tradisi monopoli yang dilakukan oleh grand narratives.
Alih-alih mencoba mengkonstruksi narasi besar lainnya, justru posmodernisme, sebut Lyotard, hendak mencari paradoks, ketidakstabilan, dan hal-hal yang belum diketahui. Tujuannya adalah menghancurkan otoritas yang dihasilkan oleh narasi besar, yang menurut Lyotard telah merepresi kreativitas individu. Dalam Just Gaming (1979) Lyotard menjelaskan: dalam membuat keputusan yang bernilai, daripada mencari narasi besar, kita bisa mendasarkan pada bentuk pragmatis, ‘case by case basis’. Cara ini menjadi cara ideal untuk digunakan dalam dunia posmodern, di mana tidak akan ada kriteria absolut. Anti-fondasionalisme lah yang hendak dituju Lyotard, yaitu penolakan ide yang menyatakan bahwa terdapat fondasi atas sistem berpikir atau berkeyakinan kita, dalam membuat keputusan bernilai.
Posmodernisme yang dibahas Lyotard dapat kita pahami melalui konsep yang ia sebut the event dan konsep ‘dift’erend. The event yaitu sebuah kejadian yang secara dramatis mengubah cara pandang kita terhadap dunia, dan mempertanyakan asumsi ideologis kita. Sedangkan ‘dift’erend, tidak dapat dijelaskan oleh teori narasi besar. ‘Dift’erend merepresentasikan titik terbongkarnya narasi besar. Tujuan kedua konsep ini, adalah untuk mengakui bukan hanya membatasi narasi besar tapi juga untuk membuka diri terhadap masa depan, terhadap narasi-narasi kecil.
Bagaimana dengan politik praktis? Kita tahu terdapat bentuk-bentuk politik dominasi yang dilakukan antar rezim, perang otoritas. Menurut Lyotard, para filsuf dapat membantu rezim-rezim yang direpresi untuk menemukan kembali suaranya. Kegiatan ini disebut Lyotard sebagai philosophical politics: pencarian rezim baru.Lyotard juga mengkritik techno-science yang mencoba membajak atau mencuri narasi tentang sejarah manusia dengan cara mempersiapkan akhir kehidupan di Bumi. Menurut Lyotard, para ilmuwan tersebut memusnahkan manusia secara berkala dengan cara mengembangkan teknologi komputer yang dapat memproduksi dirinya sendiri, dan melanjutkan eksistensinya sendiri di alam semesta ketika Bumi hancur. Dalam bukunya, The Inhuman (1988), Lyotard menjabarkan tujuan utama para ilmuwan tekno adalah untuk menjadikan pikiran dapat berdiri sendiri tanpa adanya tubuh. Ketika ini terjadi, maka tidak akan ada the event, ‘dift’erend, dan keterbukaan terhadap masa depan. Mereduksi manusia ke dalam proses tersebut adalah bentuk otoritarianisme.
Sumber foto: https://www.sanglah-institute.org/2020/07/jean-francois-lyotard-tentang-ekonomi.html

