Hi, how are you? Semesta baru aja membawamu datang ke blog ini. Welcome! I hope you are having a great day today.
Or no? 🙂 But it’s ok. Namanya hidup, ya kan? Kadang happy, kadang overthinking! Tapi mau gimana pun, perasaan itu–dan perasaan lainnya–bakal terus menemani di kehidupan kita, ya? Dan kayanya gak perlu dilawan.
Kadang, kalau self-esteem lagi rendah banget, saya coba buat nggak denial, tapi nikmatin prosesnya. Mau nangis? Ya nangis aja. Mau meratapi nasib? Ya ratapi aja dulu.
But what’s next?
Tiga bulan terakhir di tahun 2025, saya punya energi berlebih yang bikin saya rajin olahraga. Gym, yoga, badminton, bodycombat, dan zumba… saya lakukan selama kuat secara fisik. And I am grateful for this.
Saya ikuti bagaimana kemampuan tubuh dapat melakukan itu semua. Termasuk energi berlebih untuk baca buku banyak dalam satu periode waktu. Saya gak deny kalau energi berlebih ini mula-mula datang dari sakit hati dan kebingungan untuk menyalurkan emosi-emosi yang saya kategorikan sebagai ‘buruk’ yang bikin saya spiraling secara mental, bahkan bisa sampai gak nafsu makan (which for me, gak nafsu makan itu paling aneh karena saya suka makan).
First things first, I talked to my father and sister. They told me to reconnect with God through meditation, salah hajat, tahajud, istiqarah, and reading yasin until you hit that moment of exhaustion and fall asleep. I didn’t responds them with countless sighs (like I used to), but I truly followed their advice and for now I did that occasionally. It works. With an open heart, I found a bit of peace. Mereka juga menyarankan hal yang mungkin kita semua udah bosan dengarnya, yaitu: coba bersentuhan dengan alam (grounding!) seperti tanah, tanaman, hujan, dan bunga-bunga. Anything related to nature. Saya lakukan itu dengan ragam bentuk alam yang saya temukan di area kos, tempat kerja, or anywhere when I wander around.
To feel at peace means realizing that nature never rushes, yet it blooms, ya kan?
Tentu, hasrat untuk lari ke alkohol sangat besar. Maksudnya, ya jadi alcoholic atau minum lebih dari kemampuanku, cheap alcohol treats yang bikin mabuk!; you know… the urge to forget the pain through any kind of alcohol! I was so close untuk melakukan itu (seperti zaman dulu pas ‘muda’ hahaha), tapi bersyukur ketemu sama beberapa teman ngobrol who are super wise ketika saya membicarakan soal emosi ‘buruk’ ini. You know who you are, thank you so much Mbak S, Mbak R, Koh W, F, S, A! One thing for sure, I didn’t stop drinking alcohol but I know I drink for fun, not for the pain. I am thankful for how I handle that urge. Mungkin, ini yang dinamakan adulting?
Ngobrolin adulting, (sebelum mengalami emosi ‘buruk’ dari sakit hati ini) kayanya saya udah melewati masa-masa adulting dalam berbagai fase. Fase transisi SMA-kuliah, kuliah-kerja, kerja-sambil kuliah, kuliah-kerja-kerja. Tentu saja tiap orang fase adulting-nya beda-beda dan personal. Buat saya saat ini, yang saya rasa paling menyakitkan dan bikin ‘dewasa sebelum waktunya’ adalah ketika kehilangan Mama waktu itu pas SMA. Mama, sebelum komplikasi dan meninggal, beberapa kali melakukan cuci darah karena ginjalnya udah gak berfungsi normal. Pernah suatu waktu, saya menyaksikan pasien lain yang juga lagi cuci darah mengalami kejang dan meninggal di tempat. Mungkin ini bikin trauma juga, ya? Dan pas Mama meninggal, oh I was crumbling so bad, I didn’t know what to do other than be a crybaby and mostly what I did was blame my father for it. Saya kira, siapa pun di dunia ini kalau kehilangan Ibunya akan gila, kan? 🙂 I did, and I am.
Fase adulting lainnya yang juga saya pikir jadi canon event di hidup saya, patah tulang! God let me feel the pain by breaking my right leg–with a total of 8 pins and a wire. I often slapped my face or squeeze my skin so bad and blamed God for all of this which I called unfortunate events.
Lantas setelah saya memikirkan ulang beberapa fase adulting barusan, saya kira jadinya tidak ada yang istimewa dari patah hati dan emosi ‘buruk’ yang akhir tahun 2025 datang itu. “Gara-gara itu, kamu jadi lebih sehat.” Gak salah, sih. I told you earlier I won’t deny this fact: that one of the reasons (yes, ONE OF), adalah sakit hati. Tapi, coba lah untuk memberikan credit itu ke saya dulu, sebab saya yang mengalami juga merasakan ‘sakit hati’ 🙂 One thing for sure, refleksi ulang juga saya lakukan soal ini, bahwa saya mendapat berkah yang melimpah. I feel closer to myself and God, spiritually. Menjadi lebih mindful dan thoughtful. Most of the times I cried myself to sleep and realized how lucky I am to have moved through that phase in just two weeks. I picked up my scattered pieces, stood up stronger than before within a month. October-December of 2025 is what I called shredding time, and 2026? I call it the year of divine revelations, at least this is the theme for my January 2026 🙂
I embrace and call those life events, including the ‘sakit hati’ part as blessings 🙂 Nggak mudah untuk bisa bilang kalau kejadian-kejadian itu adalah berkah.
Tuhan dan semesta begitu baik, saya memiliki privilese untuk merasakan ragam rasa itu (bersalah, sedih, senang, dsb.). Bagaimana cara menebusnya? Memperbaikinya? Menjadi lebih baik? Apakah saya mampu? Bagaimana kalau kematian datang lebih cepat? Refleksi ini sering saya lakukan. Dan sekarang, lebih seru karena refleksinya gak cuma pas bengong di kosan, tapi juga pas treadmill atau antara set pas nge-gym. Hahaha. Bayangin, lagi menu upper–lat pull down 18 kg x 3 set x 12 rep dan disela-sela rehat itu lah kadang nangis dikit atau zoned out bentar untuk mikirin betapa saya harus banyak bersyukur masih bernafas dan mengalami dunia yang luas ini.
Iklan bentar, saya mau kasih foto dedaunan pas hujan di area kantor kemarin tanggal 2 Januari:

Bagian bunga pas lagi cerah:

Ragam Eastern philosophy yang saya pelajari di kampus dulu memang bantu ‘meredam’ membludaknya emosi ‘jelek’ yang saya selalu amini sebagai ‘oh this is me’. Beberapa di antaranya adalah Kintsugi 🙂 “…the art of repairing broken pottery with gold lacquer, symbolizing beauty in imperfection (Wabi-Sabi), resilience, and transformation…” Saya adalah mangkuk yang pecah itu, dan saya satukan kembali mangkuk itu dengan lem emas 🙂 Oh how I love this philosophy. Tapi menjadikan fondasi ini jadi praktikal butuh waktu lama. Berbagai hal perlu saya baca berulang, dari mulai soal Stoik hingga ‘a how to’ book yang saya harus belajar cepat supaya emosi ‘jelek’ ini bisa diubah jadi dopamine supply. Kayanya, ini pembelajaran yang terus menerus dilatih, ya kan? Tuhan baik banget, yang tadinya bikin sakit hati, justru merupakan berkah bahwa saya dikasih waktu belajar lagi lagi dan lagi supaya lebih baik bagi diri sendiri dan orang lain.
Hal lainnya yang bantu saya ‘lebih dewasa’ (cieeeeh, dewasa), yaitu belajar nafas yang diajarkan sama Zen philosophy. Nafasnya pakai core perut kaya pas kita olahraga (or gym). Namanya, diaphragmatic (abdominal) breathing. SAya belajar pelan-pelan gimana ‘nafas’ yang bisa bikin lebih tenang kalau otak lagi mumet lewat video di bawah ini. 🙂
Side note: selain Zen Master Thich Nhat Hanh, saya lagi belajar juga Zen philosophy (selain belajar nafas) dari biksu yang namanya Sunmyo Masuno. Saya belajar lewat 3 bukunya yang berjudul 1) Seni Menyederhanakan Hidup, 2) Jangan Cemas, dan 3) Belajar Merelakan. Per hari ini, saya baru menyelesaikan buku 1 dan lagi jalan baca buku 2. Semoga selesai di minggu pertama Januari!
Dari Sunmyo Masuno saya belajar duduk zazen dan salam namaste setiap pagi. Saya lakukan itu selama satu bulanan terakhir. Setelah bangun pagi, sebelum mandi dan berangkat kerja, saya lakukan. duduk zazen, salam namaste, dan memejamkan mata. Kemudian bernapas Zen setidaknya 5 kali tarikan.
I may not religiously fit with the norm, but I know I want to learn more about life’s wisdom and I hope I will always be spiritually closer to God 🙂

