Marcuse berpendapat bahwa penolakan terhadap dominasi global korporat kapitalisme memiliki berbagai bentuk. Di Vietnam, Kuba, dan di Tiongkok, revolusi dilakukan berdasarkan keinginan melawan administrasi sosialisme yang kepalang birokratik. Di Amerika Latin, impuls revolusi berdasarkan keinginan untuk merdeka (liberation). Populasi ghetto di Amerika yang ingin revolusi juga masanya semakin besar. Mahasiswa juga lakukan oposisi. Di Prancis, kekuatan libertarian dengan bendera merah dan hitam juga semakin masif. Yang ingin ditekankan oleh Marcuse adalah, basis perlawanan semakin membesar secara lintas wilayah.
Masyarakat yang bebas tidak akan ada tanpa terjadinya kemerdekaan (liberation). Persoalan ini hendak Marcuse bahas dalam bukunya yang berjudul An Essay on Liberation (Beacon Press, 1969), yang mana juga merupakan pengembangkan apa yang telah ia bahas di karyanya yang lain, yaitu Eros and Civilization dan One-Dimensional Man. Tulisan dalam buku An Essay on Liberation ditulis sebelum kejadian Mei dan Juni 1968 di Prancis. Marcuse dedikasikan tulisan ini untuk para militan muda yang ia sebut sebagai expressions of concrete political practice, yang telah menciptakan hantu untuk menghantui tidak hanya para borjuis tapi semua birokrat yang eksploitatif. Para militan muda yang Marcuse maksud adalah yang memiliki harapan mewujud (embodiment of hope) melalui revolusi yang dilakukan, karena mereka percaya kehidupan yang dimotori oleh pseudo-democracy itu dapat dihancurkan.
“… they [the young millitans] have taken the idea of revolution out of the continuum of repression and placed it into its authentic dimension: that of liberation.”
Tulisan Marcuse dalam An Essay on Liberation berisi 4 esai, yaitu A Biological Foundation for Socialism?, The New Sensibility, Subverting Forces–in Transition, dan Solidarity. Ia memulai tulisan itu dengan memberikan pendahuluan mengenai konsep utopia yang mungkin selama ini telah kita salah artikan: mengaitkannya dengan ketidakmungkinan yang absolut. Dalam hal ini, kita sering mendengar bahwa teori kritis, utamanya teori Marx, adalah teori yang terlampau spekulasi yang utopis. Padahal teori kritis mampu mendiagonis-menganalisis perubahan institusional, yang mana seharusnya juga bisa jadi moda evaluasi: menuju kondisi yang ‘lebih tinggi’ atau higher dalam arti lebih rasional dan penggunaan sumber daya yang adil, minimalisasi konflik yang destruktif, dan pembesaran ruang kebebasan.
Celaan kita terhadap konsep utopia harus segera disingkirkan. Utopia bukan berarti ‘no place’ dan tidak ada harapan dalam sejarah, tapi utopia merupakan kondisi di mana limitasi/blokade dilakukan oleh kekuasaan yang didirikan oleh masyarakat sendiri. Utopia ini dimungkinkan oleh masyarakat kapitalisme dan sosialisme.
Dan ketika masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, bagi Marcuse, itu tidak cukup dalam menggulingkan pengkondisian tersebut. Jargon satisfy our needs without hurting others tidak cukup. Yang Marcuse tekankan adalah, bagaimana kalau kita dapat memenuhi kebutuhan hidup (seperti konsep self-sufficient) ternyata malah menjadi medium menyakiti diri sendiri. Maksudnya, bagaimana kalau pemenuhan kebutuhan itu justru jadi moda keberlangsungan kebergantungan kita terhadap aparatus yang eksploitatif? Masyarakat yang bebas ditandai oleh tumbuh-kembangnya well-being yang selaras dengan kualitas hidup. Kebebasan yang dimaksud adalah lingkungan yang tidak lagi teradaptasi dengan kondisi kompetitif yang diminta oleh dominasi eksploitatif. Kebebasan juga berarti tidak lagi mentolelir keagresifan, kebrutalan, dan kejelekan yang dibuat oleh dominasi itu. Ketika hasrat terus menuju ke arah kebebasan, maka pemberontakan (rebellion) menjadi bagian dari kondisi alamiah manusia: aspek biologis dari individu-individu, yang mampu meredefinisi tujuan dari perjuangan politik, yakni menuju kebebasan (liberation). Marcuse percaya akan kondisi alamiah manusia ini.
Marx dan Engels berargumen bahwa masyarakat bebas itu dimungkinkan dalam masyarakat sosialis, tapi bagi Marcuse hal itu tidak begitu relevan untuk hari ini (bukunya ditulis tahun 1969). Sebab, bentuk dominasi eksploitatif telah berkembang, yang mana menyebabkan jurang antara masyarakat bebas dan masyarakat yang ada itu semakin lebar dan dalam. Alhasil, kekuasaan represif juga berkembang.
“For the world of human freedom cannot be built by the established societies, no matter how much they may streamline and rationalize their dominion.”
Dunia dan masyarakat bebas dapat dicapai melalui praktik politik, tahapannya yakni 1) mengakar pada/untuk mengembangkan infrastruktur (dalamnya) manusia (infrastructure of man), lalu 2) melepaskan diri dari dan atau menolak sistem yang ada, yang Marcuse sebut Establisment, 3) menuju perubahan nilai yang radikal (radical transvaluation of values––mengingatkanku pada revaluations of all values a la Nietzsche).
Pemberontakan bisa dari siapa saja: masyarakat kelas menengah, orang metropol, proletar, selama memang memiliki harapan yang sama, yaitu the Refusal akan Establisment. Strategi persuasif dan bersabar, atau mempercayai Good Will dari Establisment bagi Mercuse adalah salah dan imoral. Its cruel affluence, sebut Marcuse.
A Biological Fondation for Socialism?
Dua dorongan utama bagaimana kapitalisme bekerja dalam sebuah masyarakat, 1) terdapat eskalasi produksi komoditas dan eksploitasi yang semakin produktif, dan 2) meleburnya eksistensi dimensi privat dan publik. Kita perlu menganalisis kondisi ini berdasarkan kategori moral, politik, dan estetik.
Kategori pertama: soal moral. Marcuse menyoroti bagaimana masyarakat kapitalis adalah masyarakat yang carut-marut (obscene, cabul) dalam memproduksi atau mempertunjukkan kemewahan yang dimilikinya, dan pada saat yang bersamaan merampas korban atas kemampuan memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka juga carut-marut karena telah menumpuk berbagai barang (sekalipun itu sampah), dan pada saat yang bersamaan meracuni dan menghancurkan sumber makanan bagi para oposisinya.
Kecarut-marutan (obscenity) ini adalah konsep moral yang digunakan sebagai senjata bagi orang-orang yang ada di Establishment. Terapi linguistik perlu dilakukan agar kita tidak terjerumus ke dalam wilayah netral yang salah, yang menormalisasi penggunaan konsepnya. Apabila seharusnya obscenity itu menunjukkan manifestasi dari rasa bersalah (transisi atas yang tabu: konsep yang digunakan pada ranah seksualitas, situasi Oedipal), obscenity yang terjadi di masyarakat makmur kapilatistik tidak memicu adanya rasa bersalah dan malu. Pada masyarakat yang menganggap bahwa kebebasan seksualitas itu merupakan penggambaran degradasi moral, perasaan malu dan bersalah akan selalu mengikuti. Konsekuensinya, seksualitas pun terrepresi dan ditutup rapat. Ketika masuk ke masyarakat kapitalistik, justru seksualitas dibolehkan dan ditunjukkan, seks sebelum nikah juga bukan soal. Bagi Marcuse, hal ini kontradiktif. Harusnya, kebebasan seksualitas juga selaras dengan kebebasan atas kekuasaan yang represif. Yang terjadi di masyarakat kapitalistik bukanlah kebebasan seksualitas, tapi sebuah kemunafikan (hypocrisy).
Moral––saya kira, adalah yang dipakai Marcuse sebagai basis dari dalam diri yang nantinya memicu revolusi instinctual. Revolusi instinctual menjadi dasar dari pemberontakan politis. Pemberontakan politis pasti melibatkan subversi kultural. Ini alur yang dibutuhkan untuk melawan Establishment.
“Political radicalism thus implies moral radicalism: the emergence of a morality which might precondition man for freedom.”
Bagi Marcuse, moralitas adalah sifat penting manusia. Dan menurutnya, mungkin moralitas berakar pada dorongan erotis yang secara ontologi memiliki tujuan to create dan to preserve (ever greater unities), penyatuan organisma-organisma. Sebenarnya, solidaritas kesatuan itu ada, namun direpresi ketika munculnya kelas-kelas. Sekarang, solidaritas itu menjadi syarat pra kondisi untuk tercapainya kebebasan.
Fondasi moral itu bagi Marcuse berdimensi biologis. Biologis di sini bukan merujuk pada istilah medis, tapi merujuk pada pola-pola perilaku, dan analogikal: respirasi menjadi penting bagi kehidupan organisma, kalau tidak dipenuhi akan menimulkan disfungsi keseluruhan. Ketika suatu moralitas dikokohkan sebagai norma berperilaku secara sosial, maka lambat laun akan dianggap sebagai fondasi yang organik. Karena mempercayai keorganikan norma tersebut, maka masyarakat akan dengan sukarela untuk melanggengkan ideologinya. Contohnya: di masyarakat kapitalistik, manusia dikondisikan untuk selalu memiliki hasrat memiliki, konsumtif, didorong untuk terus memperbaharui gawainya. Kondisi ini menjadi biologis, dianggap alamiah. Kondisi alamiah kedua adalah ketika manusia tersebut menghalau munculnya fondasi tandingan yang mengancam instinctinal kapitalistik mereka yang sudah distrukturisasi. Untuk kembali pada fondasi moral yang berpijak pada nilai solidaritas, revolusi instictinal perlu dilakukan.
Kapitalisme teknologi
Bentuk dominasi kapitalisme hari ini adalah melalui teknologi. Tapi, penemuan automobile, TV, peralatan rumah tangga, dan sebagainya tidak pernah represif. Yang disoroti oleh Marcuse adalah teknologi yang produksinya dibuat memiliki tujuan menumpuk profit/keuntungan, dan dijadikan alasan aktualisasi. Contohnya: kita membeli barang keinginan kita di pasar dengan justifikasi aktualisasi diri, padahal itu hanyalah bentuk realisasi kapital. Realisasi kapital begitu destruktif hingga justifikasi manusia atas self-determination-nya, konsep-konsep seperti otonomi individu, hanyalah dijadikan medium untuk kapitalisme yang terorganisir. Zero sum game hanya akan melanggengkan konsep Hobbes: bellum omnium contra omnes, yang dalam hal ini “the happiness of the ones must coexist with the suffering of the others.”
“Self-determination, the autonomy of the individual, asserts itself in the right to race his automobile, to handle his power tools, to buy a gun, to communicate to mass audiences his opinion, no matter how ignorant, how aggressive, it may be.”
(1969: 12-13).
Kapitalisme terorganisir (organized capitalism) menggunakan frustasi, kesedihan, dan kejengahan manusia dalam proses sublimasi kekuatannya. Dan hal itu menjadi cara juga untuk mereproduksi orang-orang yang mengabdi sukarela (voluntary servitude) atas kapitalisme. Oleh media masa, kemampuan olah emosi dan eksplorasi rasionalitas dibuat memiliki objektif untuk profit pasar.
Persoalan ini, bagi Marx, adalah dengan melakukan transformasi-pemberontakan ekonomi dari kelas pekerja/buruh, beserta menuntut perbaikan kondisi kerja di arena politik, dan sebagainya. Bagi Marcuse, transformasi kondisi kapitalistik perlu dilakukan dengan cara melepaskan diri dari kemelekatan dengan produk-produk yang dieksploitasi: dalam hal ini abolisi/penghapusan kapitalisme.
[]
To be continued.

