Kira-kira pada abad ke-18, divisi Idéologue dalam Institut National des Sciences et Art mendapatkan reputasi yang gemilang karena menjadi pionir dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di Prancis. De Tracy menjadi salah satu anggota divisi tersebut yang diklaim paling berjasa. Menurut de Tracy, sains perlu memiliki fondasi, dan fondasi itu adalah ide-ide. Tulisan-tulisan yang dipublikasi oleh Idéologue dianggap memiliki pengaruh dalam pembahasan republikanisme liberal, anti-klerikal, dan memiliki pretensi serius untuk mendorong majunya ilmu-ilmu saintifik. Melalui tulisan-tulisan ini juga, de Tracy sendiri mengkritik pihak gereja dan elit aristokratik serta doktrin-doktrin absolutnya, sebagai sumber kekacauan yang terjadi di Prancis.
Upaya mengembangkan ilmu melalui Idéologue sebagai institusi, de Tracy kembangkan dalam konteks ideologi sebagai ilmu ide-ide (sciences of ideas). Dalam tulisannya, Éléments d’idéologie, de Tracy mencoba menjabarkan motif atau dasar bertindak seseorang. Lebih lanjut, de Tracy menginginkan terjadinya purifikasi pengetahuan. Ideologi lah alat untuk melakukan pemurnian itu.
Upaya de Tracy begitu kontras dengan misi Napoleon yang hendak mempertahankan monarki absolut. Napoleon pun melabeli de Tracy dengan Idéologue dalam konteks yang reduksionis, dianggap bertentangan dengan misi otoritas. Bahkan Institut National atau Idéologue disalahkan Napoleon atas kekalahan Prancis dalam menginvasi Rusia [pada 1812]. Kondisi penyalahan ini diambil oleh Marx dalam menjelaskan ideologi versinya. Apabila Napoleon menyalahkan de Tracy, Marx menyalakan pengikut Hegel (The Young Hegelians/YH) serta pemikiran-pemikirannya sebagai sumber ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Menurut Marx, memperbaiki ketimpangan atau masalah sosio-ekonomi bukan di kepala atau gagasan yang disebut YH sebagai penyembuh, tapi di kepalan tangan. Marx menyebut YH tidak memahami konteks masyarakat Jerman dan cenderung anakronistik. Dalam hal praktik, ketimpangan yang dimaksud adalah ketimpangan yang muncul akibat pergeseran agrikultur ke industri yang menyebabkan tidak terjadinya distribusi hasil yang adil; dibuktikan dengan alat produksi yang hanya dipegang oleh kaum borjuis, semestara kaum proletar dijadikan sebagai tukang belaka. Misalnya, di era agrikultur, proses meminum susu dari hasil yang tersedia seperti Sapi, membutuhkan jarak yang singkat dan bisa saja langsung. Hasil tani pun diolah dan dimakan oleh orang yang sama. Tapi ketika era industri muncul, proses itu mengalami proses yang panjang. Bisa saja, saya tercerabut dan tidak tahu, bahkan mungkin tidak mau tahu, siapa yang memotong, memilah, memanen, buah-buahan yang saya makan, yang dibeli dari supermarket. Proses pemotongan ini dipromosikan oleh cara kerja kapitalisme yang berkembang seiring dengan industrialisasi setiap hasil alam.
Pertanyaan inti Marx: mengapa seseorang tidak bisa memakan [langsung?] nilai/hasil dari kerjanya? Jawabannya: karena ideologi. Ideologi menurut Marx merupakan parasit mental yang membebani sejarah. Maksudnya, ia bersifat kontra-produktif terhadap peradaban baru. Marx seolah berbicara bahwa Hegel (tapi yang disorot YH), menghasilkan ideologi kontra-produktif, maka kita tidak perlu berideologi. Lebih lanjut, Marx menyebut ideologi sebagai ‘kesadaran palsu’ atau keliru yang menjadikan kita memandang kenyataan sosial-politik secara serampangan. Kapitalisme yang dianggap sebagai sistem ekonomi yang adil merupakan hasil dari kesadaran palsu, karena sebenarnya kapitalisme itu menindas.
Pandangan Marx tentang ideologi, bermula dari penjelasannya mengenai fungsi ideologi sebagai superstruktur dari sebuah peradaban: ideologi mengkonstruksi terciptanya ide-ide yang dominan di masyarakat. Ide-ide yang dominan itu merupakan hasil dari hadirnya kelas yang berkuasa. Marx menyebut, “The ruling ideas are nothing more than the ideal expression of the dominant material relationships, the dominant material relationships grasped as ideas; hence of the relationships which make the one class the ruling one, therefore, the ideas of their dominance.” Tujuan ideologi adalah untuk melegitimasi daya-daya mengatur itu dalam bentuk hegemoni. Kekerasan dan eksploitasi dapat dijustifikasi untuk mendukung hegemoninya. Maka dengan logika seperti ini, terdapat kelas pengatur, pengontrol, pemilik dan yang diatur, dikontrol, dimiliki, dst.
Posisi Marx dalam ideologi dapat dibahas berdasarkan dua jalur pendekatan, yaitu pendekatan metodik dan instrumental. Melalui pendekatan pertama, ideologi dipakai untuk mengetahui cara kerja eidos, idea, ide dalam mengkonstruksi realitas termasuk cara berpikir. Lalu melalui pendekatan kedua, ideologi merupakan sebuah cara sistematis untuk menanamkan suatu nilai pada manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Pada cara kerja metode, maka ideologi dibahas dalam konteks yang netral, sebagai sebuah ilmu. Saya sebut, sekadar mendeskripsikan ideologi yang dibahas. Namun dalam cara kerja yang instrumental, ideologi dapat dibahas tergantung telos atau tujuannya, yang biasanya menimbulkan beragam respons karena menyangkut hal-hal politis, sensitif, kadang dianggap perlu hati-hati ketika membicarakannya.
Ideologi yang Marx sebut parasit dan bersifat kontra-produktif itu perlu dibunuh sehingga tidak lagi tercipta ketimpangan. Pembunuhan itu dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu investigasi [asumsi-asumsi yang didorong oleh ideologinya], lalu eksploitasi, dan lakukan marginalisasi dengan cara menunjukkan jalan buntu dari praksis ideologinya.
Di satu sisi, pandangan ganda Marx menyoal ideologi dapat membantu kita memahami realitas tidak dalam konteks sebagai ilmunya saja. Tapi di sisi lain, yang Marx telah jabarkan juga memiliki muatan-muatan ideologis. Ia juga menciptakan ideologi. Saya kira yang terpenting, mungkin yang perlu disoroti dalam hal ideologi, adalah kesadarannya, kesadaran dalam berideologi.
Featured images: Dall-E!
Bacaan lebih lanjut:
Felluga, Dino. “Introduction to Karl Marx, Module on Ideology.” Modules on Marx, https://cla.purdue.edu/academic/english/theory/marxism/modules/marxideology.html. Accessed 13 March 2022.
Marx, Karl and Frederick Engels. The German Ideology Part One, with Selections from Parts Two and Three, together with Marx’s “Introduction to a Critique of Political Economy.” New York: International Publishers, 2001.
Suryajaya, Martin. “Pengantar Ideologi – IndoPROGRESS.” IndoPROGRESS, 16 December 2014, https://indoprogress.com/2014/12/pengantar-ideologi/. Accessed 13 March 2022.

