Thompson membagi 5 modus umum yang digunakan ideologi untuk beroperasi, yaitu: legitimasi, disimulasi, unifikasi, fragmentasi, dan reifikasi. Berkaitan dengan pembagian ini, Thompson memberikan disclaimer. Pertama, kelima modus tersebut bukan satu-satunya cara yang digunakan ideologi beroperasi. Lalu, bisa saja antar modus tumpang tindih atau menguatkan strategi satu sama lain. Kedua, setiap modus operandi tidak selalu secara unik memiliki asosiasi dengan suatu strategi. Ketiga, tidak ada strategi simbolik yang secara intrinsik ideologis.
Dalam kolom berikut, Thompson mengindikasi beberapa cabang cara modus tersebut berstrategi.
| Modus umum | Beberapa strategi tipikal dari konstruksi simbolik |
| Legitimasi | Rasionalisasi, Universalisasi, Narativisasi |
| Disimulasi | Pemindahan (Displacement), Eufimisasi, Kiasan (Trope) seperti sinekdoke, metonimi, dan metafora. |
| Unifikasi | Standarisasi, Simbolisasi persatuan |
| Fragmentasi | Pembedaan, Ekspurgasi yang lain |
| Reifikasi | Naturalisasi, Eternalisasi, Nominalisasi atau pasivisasi |
Legitimasi
Hubungan antar dominasi mungkin saja, menurut Max Weber, dapat dibangun berdasarkan representasinya sebagai sesuatu yang adil dan layak untuk didukung. Klaim untuk dikatakan sah (legitimate), menurut Weber, terbagi ke dalam 3 alasan, yaitu alasan rasional (menarik bagi aturan legal yang berlaku), alasan tradisional (menarik bagi tradisi lama atau yang dipelihara), alasan karismatik (menarik bagi aktor-aktor yang memiliki otoritas). Klaim tersebut bisa muncul dalam beberapa bentuk simbolik. Misalnya, rasionalisasi, di mana seorang produsen simbol membentuk pola alasan untuk membela atau menjustifikasi suatu klaim. Tujuannya mengundang audiens yang dapat mendukung. Kemudian, universalisasi, yang mana dilakukan untuk melayani kepentingan umum (all). Lalu, narativisasi, klaim yang muncul atau terinternalisasi melalui cerita-cerita masa lalu, dan menggunakannya pada masa kini sebagai tradisi yang perlu diromantisasi. Dalam klaim ini, bisa saja suatu tradisi (atau cerita) dibangun untuk kepentingan membangun sense of belonging suatu komunitas, khususnya yang sedang berkonflik. Cerita-cerita ini dinarasikan oleh otoritas dan masyarakat biasa (secara sengaja atau tidak sengaja). Pidato, dokumenter, sejarah, novel, dan film dikonstruksi sebagai narasi yang dapat menggambarkan dan menyingkap relasi sosial, termasuk relasi dominasi kekuasaan.
Disimulasi
Relasi dominasi mungkin dapat dibangun dengan cara disingkap, ditolak, atau dihalangi. Misalnya, melalui pemindahan (displacement), seseorang dapat mentransfer konotasi (negatif atau positif) akan suatu hal (bisa objek atau individu), untuk re-aktivasi suatu tradisi. Seperti ketika Louis Bonaparte, yang diobservasi oleh Marx, merepresentasikan dirinya sebagai keturunan sah Napoleon Bonaparte untuk tujuan re-aktivasi tradisi bagi masyarakat yang dikuasainya. Di sini, bagi masyarakat Louis, muncul rasa rindu ketika dipimpin oleh Napoleon. Kemudian, melalui eufimisasi, suatu aksi, institusi, hingga relasi sosial dideskripsikan sebagai nilai positif. Dalam kasus supresi kekerasan, eufimisasi menjadi cara untuk mengembalikan kembali keteraturan (restoration of order). Seperti ketika penjara atau kamp konsentrasi dideskripsikan secara lisan atau tulisan sebagai tempat rehabilitasi, pekerja asing disebut pekerja tamu, dan seterusnya. Dalam hal ini bisa saja eufimisasi digunakan dalam konteks yang peyoratif tapi dilakukan dengan subtil, tersembunyi. Contohnya ketika ratusan tank dan prajurit masuk ke Lebanon pada tahun 1982 tapi ditolak disebut invasi. Ideologi melalui disimulasi juga dapat berbentuk kiasan, penggunaan bahasa seperti sinekdoke, metonimi, dan metafora. Misalnya ketika Margaret Thatcher dideskripsikan sebagai Iron Lady yang dimaknai sebagai seorang manusia super dengan kehendak kuat. Makna dimobilisasi bersamaan dengan keterlibatan kekuasaan untuk melancarkan, membuat, memproduksi ulang relasi dominasi.
Unifikasi
Relasi dominasi dapat dibentuk melalui konstruksi pada level simbolik yang mendorong individu untuk lebih mengutamakan identitas kolektif. Perbedaan menjadi sebuah ancaman. Standarisasi dilakukan sebagai upaya untuk menyatukan. Seperti standar menggunakan bahasa Ibu ketika mengikuti atau melaksanakan suatu acara penting.
Fragmentasi
Bagi grup dominan, relasi dominasi bisa dibangun justru bukan dengan menyatukan individu-individu tapi dengan cara memecah belah individu atau kolektif yang dianggap dapat mengancam. Ekspurgasi yang lain menjadi cara untuk memiliki perasaan satu dengan grupnya. Maka, modus operandi fragmentasi tumpang tindih dengan modus operandi unifikasi.
Reifikasi
Relasi dominasi dapat dibangun dengan merepresentasikan keadaan sejarah sebagai sesuatu yang permanen, alamiah, dan tidak bisa berubah mengikuti zaman. Reifikasi, mengutip Claude Lefort, melibatkan pembangunan ulang dimensi masyarakat tanpa sejarah. Contoh strategi reifikasi adalah naturalisasi. Seperti ketika pembagian kerja berdasarkan gender dilakukan karena menjustifikasi perbedaan itu. Lalu, melalui strategi eternalisasi, perubahaan menjadi sesuatu yang dihindari karena fenomena sosial digambarkan sebagai sesuatu yang permanen. Strategi lain dari reifikasi adalah nominalisasi dan pasivisasi dalam tata bahasa atau sintaksis. Nominalisasi muncul ketika bagian-bagian kalimat diubah menjadi kata benda. Misalnya, alih-alih menyebut ‘Pemerintah melakukan pelarangan terhadap…’ kita menulis ‘Pelarangan terhadap…’. Sedangkan pasivisasi muncul ketika kata kerja diubah menjadi bentuk pasif. Misalnya, kita meyebut, ‘Terduga pelaku sedang diinvestigasi’ daripada ‘Polisi sedang menginvestigasi terduga’.
Baca di sini https://www.ucpress.edu/book/9780520307513/studies-in-the-theory-of-ideology

