Note/Transcript-like pembahasan Analitik vs Kontinental oleh Martin Suryajaya!
Bagi yang belajar filsafat pasti mengetahu terdapat pembelahan dalam filsafat kontemporer yaitu antara filsafat kontinental dan analitik. Kalau kita mau melacak akar pembelahan filsafat analitik dan kontinental, kita perlu melihat di abad akhir abad ke-19, dalam situasi pasca Hegel, atau lebih jauh lagi pasca Kant pada awal abad ke-19/akhir abad ke-18. Sepeninggal Kant, terdapat dua tendensi filsafat dalam konteks di Jerman, yaitu 1) yang terus mempertanyakan tentang syarat pengetahuan yang sistematis dst. 2) yang mengembangkan ke arah dalam bentuk filsafat Hegel. Dalam filsafat Immanuel Kant, ada pembelahan, distingsi antara benda yang dipahami sejauh yang nampak pada kita (fenomena), benda yang pada dirinya (nomena). Das ding fur mich, benda menurutku, sebagaimana yang nampak bagiku, dan das ding an sich, benda sebagaimana pada dirinya sendiri, sesuatu yang ada sebelum kita tafsirkan. Filsafat Kant menunjukkan bahwa pengetahuan manusia hanya mungkin mengantarkan kita sampai pada das ding fur mich, artinya pada benda sejauh nampak pada indera kita, pada skema konseptual yang kita miliki, tapi tidak sampai pada das ding an sich. Di situ ada pembelahan antara kenyataan objektif dan kenyataan yang kita cerap atau inderai. Filsafat pasca Kant berusaha mengatasi jurang ini. Sebagain berusaha mencari das ding an sich dengan berbagai metode ilmu alam, mengembangkan pendekatan yang lebih dekat dengan ilmu alam untuk sampai pada konsep tentang dunia objektif. Sementara yang lain melihat pembedaan antara benda pada dirinya dan benda bagi kita dapat diatasi dengan mempostulatkan bahwa keduanya itu menjadi satu dalam satu substansi tertentu; ini lah yang berkembang dalam bahasa Hegel yang disebut Roh (Spirit). Roh yang merupakan pertemuan antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui. Bahwa keduanya dicakup dalam satu entitas yang disebut Roh, dalam pengertian konsep metafisis yang mencakup segala sesuatu. Roh dalam Hegel bersifat historis, menyejarah, ikut dalam gerak sejarah itu, sehingga proses sejarah itu adalah proses Roh mengenali dirinya sendiri. Di dalam proses itu lah kita akan sampai pada pengetahuan absolut, pengetahuan tentang Roh pada dan bagi dirinya sendiri. Di situ lah pembelahan das ding an sich dan das ding fur mich menjadi terlampaui, menjadi satu. Pendekatan ini dikenal sebagai idealisme, berkembang mewarnai yang sekarang disebut filsafat kontinental. Kita bicara tentang bagaimana dunia itu bisa dikenali dalam momen-momen yang sifatnya subjektif. Hal ini berpengaruh pada gaya berfilsafat. Jadi ketika Hegel menulis tracta-tracta filsafatnya itu, karena topiknya menyerupai topik-topik yang dibahas oleh para mistikus abad pertengahan tentang penyatuan hal-hal yang bertentangan, atau yang disebut sebagai coinsidentia opositorum atau penyatuan hal yang bertentangan itu. Kemudian bahasanya pun cenderung bahasa yang katakanlah gelap. Dia berbicara tentang aku yang melihat dirinya dalam sosok yang lain. Dia berbicara bagaimana Roh dalam perjalanan untuk mengenali dirinya sendiri harus mengasingkan dirinya dalam bentuk medium yang lain. Dan dari situ lah kita bicara tentang alam semesta objektif ini. Alam menjadi eksternalisasi diri dari Roh; suatu momen di luar Roh di mana dia bisa bercermin pada alam itu untuk melihat esensi dirinya sendiri. Bahasa-bahasa seperti ini menjadi konvensi berbahasa dari filsafat kontinental.
Sebaliknya, dalam tradisi filsafat analitik, berangkat dari tradisi pasca Kant, pasca Kant yang berusaha mencari cara-cara untuk sampai pada kenyataan yang objektif. Perkembangan ilmu alam pasca Kant ini mendorong para proto filsuf analitik untuk mengembangkan suatu metode yang khas. Mereka mencarinya dalam bahasa yang digunakan oleh filsafat. Kenapa muncul problem tentang dunia objektif yang tidak terakses oleh kita, mereka melacaknya dengan memeriksa, jangan-jangan pokok persoalannya ada pada bahasa yang digunakan filsafat untuk membicarakan dunia. Dari situ berkembang filsafat bahasa dalam wujud analitiknya dalam pemikiran Gottlob Frege di akhir abad ke-19. Dia ahli matermatika dan filsuf matematika, dia mengembangkan logika modern, yang sangat berbeda dengan logika Aristoteles yang biasa dipelajari. Logika modern Frege ini sangat terpengaruhi oleh perkembangan ilmu matematika seperti teori himpunan, aljabar, dsb. Frege mengembangkan logika modern ini dalam tandem dengan matematika dan hasilnya logika ketat, kering, tidak ada lagi ambiguitas, lebih akurat daripada logika Aristoteles. Kita tahu logika Aristoteles mau membahas-mendekati persoalan logika dari masalah argumen. Jadi argumen itu kumpulan premis yang diakhiri dengan kesimpulan.
Contoh logika Aristoteles:
Semua orang akan mati.
Sokrates adalah orang.
Maka, Sokrates akan mati.
Frege melangkah lebih jauh, dia mempertanyakan logika pada alas yang lebih atomis, lebih elementer. Dia mempersoalkan logika dalam taraf proposisi, atau satu premis tadi. Dengan pendekatan logika ini, Frege menunjukkan bahwa ternyata banyak persoalan filsafat yang bisa dibahas dengan cara yang lebih ketat, rapi, dingin.
Ciri kedua yang membedakan filsafat analitik dari kontinental adalah bahwa di dalam tradisi filsafat kontinental itu filsafat berkembang dengan telaah teks. Jadi yang ditekankan adalah kita melakukan tafsir teks seperti teks kitab suci. Teks filsafat seperti Heidegger dan Levinas diperlakukan seperti teks kitab suci, dipelajari kata demi kata, baris demi baris, paragraf demi paragraf untuk menyingkapkan makna tersembunyi atau sublime dalam teks itu. Dan ini berkaitan dengan gaya berbahasa yang diinisiasi Hegel. Dengan gayanya, Hegel menunjukkan bahwa filsuf itu seperti seorang nabi, seorang yang memiliki pemikiran mendalam yang mau diajarkan pada umat manusia. Yang setiap orang harus mempelajarinya dengan hati-hati, pelan-pelan, mengamati kata demi kata. Dengan aura kenabian seperti inilah filsafat kontinental berkembang. Sering kita lihat dalam tulisan filsafat kontinental hari ini seperti Graham Harman atau Quentin Meillassoux yang juga mengembangkan daya berfilsafat dalam lingkup kontinental, gaya yang dramatis, seolah yang dibicarakan menyangkut hidup matinya seluruh dunia. Padahal kalau baca teks After Finitude: An Essay on the Necessity of Contingency karya Meillassoux, sebetulnya tema yang dibahas adalah tema yang oleh tradisi analitik sudah dibahas. Ada cara membahasnya beda. Kalau kita melihat cara membahas tradisi analitik, rileks dan merasa bagian dari studi akademik biasa, tidak ada semacam permintaan untuk diperlakukan secara istimewa. Ada suatu ungkapan oleh Gilbert Ryle kalau tidak salah tahun 40/50an, bahwa semua teks filsafat itu harus dipelajari seperti halnya barusan saja terbit di jurnal mind yang terbit bulan lalu (jurnal mind ini jurnal filsafat analitik yang berpengaruh pada paruh pertama abad ke-20-50an). Dia merasa bahwa teks filsafat apapun termasuk Plato, harus diperlakukan seolah baru saja terbit bulan lalu di jurnal itu. Sehingga tidak ada aura pemujaan sama sekali. Kalau argumen itu tidak benar, ya tidak benar.
Perbedaan ketika yang sering disebut oleh orang ketika membahas filsafat analitik dan kontinental adalah perkara geografi. Kontinental merujuk pada Eropa daratan dan analitik merujuk pada Anglo-Amerikan. Tapi pandangan ini keliru karena seperti Wittgenstein adalah filsuf analitik yang asalnya dari Austria. Jadi tidak benar juga kalau analitik pasti Anglo-Amerikan. Sedangkan orang seperti Rorty pertengahan ke akhir sangat kontinental, padahal orang Amerika. Kalau mau ditanya lebih bagus yang mana? Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihannya. Klise memang, tapi begitulah adanya.
Problem kontinental, berfilsafat dengan cara yang tidak ketat. Self-entitled, diri seolah berhak berbicara tentang sesuatu yang diasumsikan tidak akan dimengerti masyarakat. Gaya seperti itu membuat filsafat itu mengandalkan kefasihan berbahasa, yang membuat tesis argumen pokoknya menjadi elusif, tidak tertangkap dengan jelas. Sedangkan kekuatannya berada pada imajinasinya. Bisa mengimajinasikan apa yang di tradisi analitik tidak bisa lakukan. Sementara dari tradisi analitik, keburukannya sering sekali membahas filsafat secara spesifik dan mendetail, tapi kekurangan usaha untuk mesintesiskan sesuatu, tidak punya imajinasi untuk mengkonstruksi sesuatu yang lebih besar daripada sub-sub disiplin di mana ia bekerja. Mendetail tapi kehilangan peta keseluruhan. Kelebihannya kontinental, dia bisa melihat peta besar itu. Kelebihan analitik, ketekunan dalam membedah suatu permasalahan, mengurai argumen pendukungnya, dan bisa rinci menunjukkan letak masalah akan suatu tesis/argumen.
Idealnya, keduanya musti disintesiskan kembali. Dari filsafat analitik kita ambil kerapian argumentasi dan pertanggungjawaban detail dari seluruh argumennya itu. Dengan logika, pemikiran yang rigorous, ketekatan, dan mungkin pendekatan matematisnya. Tapi juga tidak melupakan kekuatan filsafat kontinental yaitu imajinasi untuk mengsintesiskan berbagai macam persoalan.
Apa yang kita perlukan itu satu filsafat yang imajinasinya seluas dan seambisius filsafat kontinental tapi kerapian bekerjanya serapi dan sedingin filsafat analitik. Itu yang dibutuhkan sekarang. Kalau itu ketemu, kita akan melihat setting filsafat yang jauh lebih produktif.
Kenapa di Indonesia filsafat analitik jarang dibahas?
Problemnya, filsafat di Indonesia masuk dari tradisi kontinental. Paling mudah diterapkan di Indonesia karena dekat dengan dunia kebudayaan atau sosial secara umum. Di Eropa, filsafat tidak hanya dekat dengan ilmu sosial-humaniora tapi juga dekat dengan ilmu alam. Jadi filsafat yang berkembang bisa dua-duanya. Sedangkan di Indonesia, filsafat itu sering dibahas dalam kaitannya dengan kurasi/kuratorial seni rupa di pameran, atau misalnya dengan tulisan semi populer di koran, atau tulisan di majalah/jurnal semi populer. Kebanyakan pengguna filsafatnya adalah dengan latar belakang ilmu sosial/ilmuwan sosial. Filsafat yang paling dekat jadinya filsafat kontinental. Tidak banyak filsafat analitik yang membahas seni atau budaya secara mendetail. Ada tapi tidak banyak. Seperti Noël Carroll yang membahas film dari perspektif analitik, tapi jadinya seperti seperti satu hal yang mendekati eksakta daripada telaah film. Itu pun tidak disukai oleh pengkaji film di Indonesia. Karena itu lah kemudian filsafat kontinental lebih dikenal publik Indonesia. Ketika orang menyebut filsafat kontemporer, pasti terpikirnya filsafat kontinental seperti Badiou, Zizek, dsb. tapi bukan Hilary Putnam, dsb. Banyak hal yang sebetulnya hilang dalam tradisi kita dan patut disayangkan.
Featured image: https://parisinstitute.org/product/there-is-no-such-thing-as-continental-philosophy/
Daftar bacaan tentang Filsafat Analitik vs Kontinental dari Martin Suryajaya:
- Anat Biletzki, 1998, The Story of Analytic Philosophy: Plot and Heroes, Routledge
- Hans-Johann Glock, 2008, What Is Analytic Philosophy?, Cambridge University Press.
- Thomas L. Akehurst, 2010, The Cultural Politics of Analytic Philosophy: Britishness and the Spectre of Europe, Continuum
- Andreas Vrahimis, 2013, Encounters between Analytic and Continental Philosophy, Palgrave Macmillan
- Nikolay Milkov, 2020, Early Analytic Philosophy and the German Philosophical Tradition, Bloomsbury Academic

