Apa yang tersisa dari pernyataan ‘subordinasi Beauvoir untuk Sartre, atau Arendt untuk Heidegger’?

Posted

by

Setelah menonton trailer resmi adaptasi Frankestein yang bukunya ditulis Marry Shelley, di Twitter/X, saya melihat beberapa perdebatan tentang apakah sebetulnya Frankenstein ditulis Marry Shelley atau oleh suamianya belaka. Well, cari sendiri perdebatannya.1

Mary Shelley (Poetry Foundation)

Yang saya sedang refleksikan adalah bagaimana sering kali, kita tidak pernah mau percaya apa yang ditulis atau karya (apapun itu) yang dihasilkan oleh perempuan. Sebab, terdapat pemikiran, kalau tulisannya ‘bagus’ tidak mungkin perempuan yang menulis. Laki-laki, yang dianggap paling mampu menguasai hajat hidup publik, adalah yang paling tepat menuliskan sesuatu yang tajam. Klise sekali, hari ini, masih membahas pembagian gender yang seksis. Tapi, mengapa masih relevan dibahas? (which I consider, a fucking bad way). Tentu, terdapat kasus ketika nama laki-laki muncul secara tunggal untuk merepresentasikan tulisan kolektif (ragam gender) demi melindungi kemungkinan-kemungkinan persekusi yang akan didapat kalau diketahui suatu tulisan dikerjakan oleh non-laki-laki. Maka memang ini tidak bisa dibahas secara monolitik. But I’ll share my two cents, anyway.

Kita secara kolektif sudah mengestafetkan nilai-nilai misoginis seperti: tidak mungkin perempuan itu akan pintar, kalau pintar, perempuan itu dibantu oleh pasangan laki-lakinya. Atau mungkin dia seorang penyihir. Dan karenanya, boleh untuk disingkirkan, diliyankan, hingga dibunuh. Implikasinya tidak semata-mata yang eksplisit, tapi juga implisit. Misal, perempuan sulit untuk menjadi ketua dalam suatu tim, dianggap too emotional, never about logic, atau kredit akan diberikan pada pasangan laki-lakinya. Di zaman witch-hunt,2 seperti periode ketika Hypatia diseret hingga bagian-bagian tubuhnya itu tercerai berai, laki-laki yang offended, akan dengan mudah menunjuk bahwa perempuan adalah penyihir dan orang akan berlomba-lomba mengaraknya. Apakah kita adalah makhluk misoginis? Homo misogynia?

Di ruang kelas, mungkin 2 tahun yang lalu, no offense to my beloved lecturer(s), kanon untuk membahas filsuf/pemikir di ranah filsafat/humaniora berjangkar pada pemikiran laki-laki saja. Kalau pun ada pemikiran perempuan, mungkin 1 atau 2 dan saya anggap pemosisian ini berada di pinggir jalan antara tokenisme dan sekadar mencantumkan belaka. Lebih lagi, yang disoroti adalah bagaimana suatu perempuan pemikir ini hanya diasosiasikan sebagai pasangan dari seorang filsuf. Tidak jarang di kampus pun orang mengenal pertama kali nama Simone de Beauvoir sebagai pasangan kumpul kebo Sarte, atau Hannah Arendt yang merupakan murid kesayangan Heidegger. And that’s all.

Saya sering bertemu juga (redacted) dengan perempuan pemikir, perempuan seniman/perupa, yang pencapaian dan kontribusinya besar, namun reputasinya sekadar diingat sebagai subordinasi dari pasangan laki-lakinya. I fucking hate the thought, and I want to punch anyone who cannot appreciate how women can thrive on their own, not because of their (male) partner(s). Tentu, to be fair, Beauvoir dan Sartre menjadi teman diskusi setara, dan Arendt menjadi murid Heidegger, which she must influenced by his teachings. Tapi bukan sekadar jadi shadows dari para laki-laki itu.

Bahasa sering kali memiliki muatan misoginis. Apa yang kita pikir sekadar menjabarkan, ternyata memosisikan misoginisme dan mendorongnya ke jurang tokenisme lebih dalam.

Yang tersisa dari subordinasi(sasi?) Beauvoir untuk Sartre, juga Arendt untuk Heidegger, adalah cara kita yang tidak pernah mau belajar bahwa perempuan punya agensi. Ikhtiar yang bisa dilakukan, pertama-tama, mulai dari penggunaan bahasa dan bagaimana penjabaran yang kita lakukan. Menyebut Beauvoir sebagai subordinatnya dari Sartre, juga Arendt subordinatnya Heidegger adalah oversimplifikasi yang sangat reduktif, menyingkirkan dan mengabaikan kritisisme pemikiran mereka sendiri. Pernyataan bahwa Simone de Beauvoir adalah pasangan kumpul kembo Sartre, memang denotatif, tapi sisi konotatifnya juga tidak bisa kita tinggalkan begitu saja. Pelajari pemikirannya, dan mulai dari menjabarkan poin-poin pemikirannya. Boleh memberikan footnote soal ‘pasangan kumpul kebo Sartre’ di akhir tulisan/refleksi, sudah cukup menjadi bukti bahwa kita sedang ikhtiar menghancurkan misoginisme dalam percakapan sehari-hari/akademis. Semoga kita juga berikhtiar hal serupa kepada teman-teman sekeliling. Stop saying that women can thrive only because of their partner’s popularity. We have our own proud achievements. Fuck off.


  1. Or try read this https://www.thescreenlight.com/post/no-one-believed-a-woman-could-write-frankenstein-know-the-story-of-mary-shelley ↩︎
  2. Mmmh https://publicmedievalist.com/literary-women-watt/ ↩︎

error: Sorry, content is protected!